IndonesiaBuzz: Surakarta, 2 Juli 2026 – Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memperingati Pengetan Adeging Nagari atau hari berdirinya kraton ke-290 pada Kamis, (2/7/2026). Peringatan yang digelar setiap 17 Suro dalam penanggalan Jawa ciptaan Sultan Agung itu berlangsung di Kagungan Dalem Sasana Parasdya, kompleks Kraton Surakarta Hadiningrat.
Upacara dipimpin langsung oleh Raja Kraton Surakarta, SISKS Pakoe Boewono XIV. Peringatan tahun ini menjadi penanda perjalanan berdirinya Kraton Surakarta yang telah memasuki usia hampir tiga abad sekaligus menjadi momentum pelestarian tradisi yang terus dijaga pada masa kepemimpinan Pakoe Boewono XIV.
Sejumlah anggota keluarga inti keraton hadir dalam prosesi tersebut. Tampak Permaisuri Pakoe Boewono XIII yang juga merupakan ibunda Pakoe Boewono XIV. Hadir pula, GKR Sekar Kirono atau Gusti Ratu Ratih dan Pengangeng Kaputren GKR Alit beserta kerabat, sentana dalem, dan ratusan abdi dalem yang datang dari berbagai daerah.
Rangkaian acara diawali doa bersama oleh ulama dilanjutkan pemaparan sejarah singkat berdirinya Kraton Surakarta oleh Pengageng Parentah Kraton, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo. Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan pembagian Jenang Suran atau Bubur Suran, sajian tradisional yang hanya disuguhkan selama bulan Suro sebagai bagian dari tradisi tahunan keraton.
Pada kesempatan ini SISKS Pakoe Boewono XIV memberikan barikan kepada para peserta yang hadir. Tradisi tersebut kali ini berisi roti tawar, garam kasar dan kunci.
Menurut KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, Pengetan Adeging Nagari merupakan bagian dari mata rantai sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa yang secara konsisten diperingati setiap datangnya bulan Suro.
“Peringatan ini menjadi bagian dari perjalanan sejarah panjang kraton-kraton di tanah Jawa, dan setiap tahun selalu kami selenggarakan di bulan Suro,” ujarnya usai kegiatan.
Ia menjelaskan, tradisi barikan merupakan simbol ungkapan rasa syukur dalam kebudayaan Jawa. Menurutnya, simbol tidak selalu berbentuk benda, melainkan dapat berupa bahasa maupun unsur lain yang memiliki makna bagi masyarakat.
“Barikan itu bisa berupa bahasa, benda, atau apa saja yang menimbulkan makna. Karena masyarakat Jawa dikenal sebagai homosimbolikum, manusia yang selalu menggunakan simbol dari lingkungannya,” katanya.
Pada peringatan tahun ini, roti tawar memiliki makna dan harapan bisa menawarkan atau menghilangkan segala sesuatu yang negatif baik dalam tubuh dalam keluarga dalam kraton dan NKRI. Segala bala, sengkala dan sesuatu bisa tawar dan hilang.
.Menurut Dipokusumo, makna tersebut sejalan dengan falsafah Jawa yang berkembang di lingkungan Kraton Surakarta, yakni Sangkan Paraning Dumadi, Dumadining Sangkan Paran, yang mengajarkan kesadaran mengenai asal-usul dan tujuan akhir kehidupan manusia.
Ia menambahkan, tradisi barikan juga menjadi ungkapan syukur atas hasil bumi yang diberikan sepanjang tahun. Bersamaan dengan itu, masyarakat memanjatkan doa agar memperoleh keselamatan, kesehatan, dan keberkahan hingga memasuki tahun berikutnya. @eko-m







