IndonesiaBuzz: Lumajang, 15 April 2026 – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat mengalami erupsi pada Rabu (15/4/26) pukul 06.51 WIB dengan kolom abu mencapai ketinggian sekitar 800 meter di atas puncak.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan bahwa erupsi masih berlangsung saat laporan disusun. Ia mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya yang ditimbulkan.
“Masyarakat perlu mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Selain itu, potensi lahar juga dapat terjadi di anak-anak sungai yang terhubung dengan aliran utama, khususnya di wilayah Besuk Kobokan. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Saat ini, status aktivitas Gunung Semeru berada pada Level III (Siaga). Otoritas terkait mengeluarkan sejumlah rekomendasi keselamatan, di antaranya melarang masyarakat beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak.
Di luar radius tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga sejauh 17 kilometer. Selain itu, aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak juga dilarang karena rawan lontaran material pijar.
Sebelumnya, pada Selasa (14/4/2026) pukul 05.22 WIB, Semeru juga mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 1.500 meter di atas puncak. Letusan tersebut disertai awan panas guguran dengan jarak luncur hingga 3.000 meter ke arah tenggara.
“Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Aktivitas ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 20 mm dan durasi sekitar 3 menit 23 detik,” jelas Lana.
Rangkaian erupsi ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Semeru masih fluktuatif dan berpotensi membahayakan. Oleh karena itu, masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diimbau untuk mematuhi seluruh rekomendasi otoritas serta terus memantau informasi resmi guna menghindari risiko yang lebih besar. @yudi







