IndonesiaBuzz: Ngawi, 17 Januari 2026 – Kekecewaan warga terhadap kondisi jalan rusak di ruas Jalan Raya Ngawi-Solo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, tumpah ke ruang publik. Sejumlah warga nekat menanami badan jalan berlubang dengan pohon pisang sebagai bentuk protes, aksi yang kemudian viral di media sosial.
Aksi tersebut terekam dalam video berdurasi 21 detik yang diunggah akun TikTok Info Seputar Ngawi Barat pada Minggu siang (17/1/26). Dalam waktu singkat, video itu menuai lebih dari seribu tanda suka dan ratusan komentar warganet yang mayoritas menyuarakan keluhan serupa.
Tak hanya menanam pohon pisang di tengah ruas jalan, warga juga memasang tulisan bernada sindiran berbunyi, “Lereno Korupsie, dalane ben dadi apik”. Kalimat berbahasa Jawa itu menyiratkan kritik tajam terhadap praktik korupsi yang dinilai berdampak pada buruknya kualitas infrastruktur.
Koordinator Info Seputar Ngawi Barat, Eko Irwanto, membenarkan adanya aksi tersebut. Ia mengatakan, penanaman pohon pisang dilakukan bersama warga sekitar sebagai ungkapan kekecewaan terhadap kerusakan jalan yang tak kunjung mendapat penanganan.
“Iya, kami bersama warga memasang pohon pisang di jalan yang rusak. Terpaksa dilakukan karena kondisinya sudah sangat parah, lubangnya dalam-dalam,” ujar Eko saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Sabtu (17/1/26).
Menurut Eko, kerusakan jalan tersebut telah berulang kali memicu kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor. Dalam sepekan terakhir saja, tercatat sedikitnya 10 kejadian kecelakaan akibat lubang jalan yang membahayakan.
“Yang paling rawan itu pengendara motor. Apalagi saat hujan, lubang tertutup air dan tidak kelihatan. Ini sangat membahayakan,” ungkapnya.
Ruas jalan yang menjadi lokasi aksi diketahui merupakan jalan nasional yang berada di wilayah Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan. Warga berharap, aksi simbolik ini dapat mengetuk perhatian pihak terkait agar segera melakukan perbaikan.
“Kami berharap dengan cara ini, instansi terkait bisa lebih tanggap. Kalau aduan masyarakat cepat ditangani, tentu warga tidak perlu sampai melakukan aksi tanam pisang seperti ini,” pungkas Eko.
Aksi tersebut menjadi potret kegelisahan warga terhadap kondisi infrastruktur yang dinilai abai terhadap keselamatan pengguna jalan, sekaligus menjadi pengingat bahwa suara publik kerap mencari jalannya sendiri ketika keluhan tak kunjung mendapat respons.(Esaputra /Koresponden Ngawi)







