IndonesiaBuzz: Magetan, 7 Oktober 2025 – Insiden tiga pendaki pingsan saat melakukan pendakian tektok melalui jalur Cemoro Sewu, Gunung Lawu, pada Sabtu 4 Oktober 2025, memicu evaluasi ketat terhadap aturan pendakian. Perhutani bersama pengelola jalur kini memperketat regulasi demi mencegah insiden serupa.
Asisten Perhutani Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Selatan, Mulyadi, mengatakan mulai pekan ini pendaki tektok diwajibkan membawa bekal makanan berat, terutama pada hari-hari biasa ketika warung di puncak tidak beroperasi.
“Pada hari libur, pendaki boleh membawa makanan ringan dan air minum. Tapi di hari biasa, kami akan periksa bekal. Kalau tidak membawa nasi bungkus, tidak diizinkan naik,” tegas Mulyadi, Selasa (7/10/25).
Selain itu, sistem pengawasan juga diperketat. Kartu identitas pendaki akan ditahan sementara dan baru dikembalikan setelah semua anggota rombongan turun gunung sesuai batas waktu yang ditentukan, yaitu pukul 21.00 WIB. Pendaftaran pendakian tektok hanya dibuka antara pukul 01.00 hingga 09.00 WIB.
“Pendaki yang terlambat turun bisa istirahat di basecamp atau musala yang kami sediakan,” imbuh Mulyadi.
Lonjakan jumlah pendaki tektok yang kini mencapai hampir 500 orang per hari di jalur Cemoro Sewu menjadi perhatian serius. Menurut Mulyadi, beberapa pendaki kehabisan energi karena tidak membawa bekal cukup, dan fenomena itu disebutnya sebagai “lapar-termia”.
“Ketiga pendaki yang pingsan kemarin berasal dari Yogyakarta dan Boyolali. Mereka kehabisan tenaga dan bahkan sempat ditinggalkan rombongan,” ungkapnya.
Untuk mencegah kejadian serupa, Perhutani juga berencana menyeragamkan aturan di seluruh pintu pendakian Gunung Lawu, termasuk Cemoro Kandang, Candi Cetho, serta jalur tidak resmi seperti Singolangu.
“Evakuasi butuh tenaga dan biaya besar. Kami ingin hindari insiden yang sebenarnya bisa dicegah hanya karena kelaparan,” kata Mulyadi. (Agus Pujiono /Koresponden Magetan)






