IndonesiaBuzz: Ponorogo, 29 September 2025 – Hidup serba pas pasan tidak menghentikan langkah Mohamad Arief Fatkhurrohman dan istrinya, Debby Humaira Permatasari, untuk bermimpi besar demi masa depan anak anak mereka. Bukti nyata ada pada putri kedua mereka, Afani Naura Fatkhurrohman, yang berhasil menapaki bangku Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui beasiswa bergengsi.
“Sejak SD, Afani sudah bercita cita jadi dokter. Kami sebagai orang tua cuma bisa mendoakan dan memotivasi agar dia semangat belajar,” ujar Arief
Ketekunan Afani tak sia sia. Sepanjang sekolah, ia selalu menempati peringkat teratas. Bahkan di SMA Muhipo, putri pasangan asal Bancangan, Sambit, ini mendapatkan beasiswa sehingga tak perlu membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).
Bagi Arief, perjuangan menyiapkan pendidikan anak anaknya tak mudah. Sebagai pengemudi ojek online, ia hanya mengandalkan motor tua untuk mencari nafkah sekaligus mengantar anak anak ke sekolah.
“Motor ini bukan sekadar alat transportasi, tapi saksi perjuangan kami,” kata Arief.
Keluarga ini harus pintar pintar mengatur keuangan, terutama karena masih ada dua anak lainnya, si sulung yang sedang kuliah S1 dan bungsu yang duduk di kelas 3 SMP. Meski begitu, Arief dan Debby sepakat menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama.
“Afani sejak kecil sudah disiplin. Dia mengerjakan PR tanpa disuruh, belajar dulu sebelum bermain, dan tidak terlalu larut dengan gawai,” tambah Arief. Kedisiplinan dan kemandirian itulah yang mendorong Afani fokus mengejar cita cita menjadi dokter.
Kesempatan beasiswa datang saat Arief mendapatkan informasi tentang Beasiswa Dokter di UMY melalui media sosial. Afani mengikuti semua tahapan seleksi dan dinyatakan lolos. Dukungan juga datang dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo.
“Sebagai orang tua, kami berjuang di bidang ekonomi, sementara anak anak berjuang di pendidikan. Kami hanya ingin mereka punya masa depan yang lebih baik,” tutup Arief dengan mata berbinar.
Kisah keluarga Arief dan Debby menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk bermimpi besar, selama ada disiplin, doa, dan dukungan orang tua. (As Adil Fajar /Koresponden Ponorogo)



