
Oleh: Eko Sigit Pujianto
IndonesiaBuzz: Opini – Kunjungan pejabat ke pelosok desa mestinya menjadi momentum menyerap aspirasi rakyat kecil, merasakan denyut kehidupan masyarakat, sekaligus menunjukkan empati pemerintah terhadap problem nyata yang melilit mereka. Namun, perilaku Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, yang meminta disediakan air galon untuk mandi saat singgah di sebuah desa terpencil, justru menimbulkan luka simbolik pejabat publik yang gagal menempatkan diri.
Dalam tradisi Jawa ada istilah empan papan kemampuan seseorang untuk tahu menempatkan diri, menghargai situasi, dan bersikap selaras dengan lingkungan. Perilaku sang menteri memperlihatkan sebaliknya. Di tengah rakyat yang terbiasa berhemat air, bahkan sebagian masih kesulitan mengakses air bersih, pejabat negara justru menampilkan kemewahan absurd mandi dengan air galon.
Lebih dari sekadar anekdot, peristiwa ini membuka pertanyaan serius tentang kualitas screening pejabat publik. Bagaimana mungkin seorang menteri, yang bertugas mengurusi pariwisata sektor yang erat dengan kebudayaan, kearifan lokal, dan keramahtamahan masyarakat justru gagal menunjukkan sensitivitas dasar? Apakah pemerintah tidak memiliki mekanisme seleksi yang mampu membaca kepribadian calon pejabat, selain sekadar mempertimbangkan kedekatan politik dan transaksi kekuasaan?
Tindakan menteri ini memperlihatkan gejala hedonisme kekuasaan yang dipertontonkan tanpa rasa sungkan. Ia menyakiti perasaan rakyat, yang saban hari berhadapan dengan inflasi, mahalnya harga pangan, dan keterbatasan akses kebutuhan pokok. Di saat masyarakat di desa harus antre air bersih atau mengandalkan sumur tadah hujan, pejabat justru menuntut kenyamanan ekstra yang tak sejalan dengan realitas di lapangan.
Pertanyaan yang lebih getir muncul apakah kita perlu patungan masyarakat untuk menyekolahkan pejabat ke lembaga pelatihan etika semacam John Robert Powers, sebelum mereka duduk di kursi kekuasaan? Sebab, yang terlihat kini, bukan sekadar minimnya keahlian teknis, melainkan defisit empati kekosongan sikap paling dasar seorang pemimpin.
Dalam kacamata publik, kejadian ini bukan hal sepele. Ia adalah simbol jurang yang semakin lebar antara elite kekuasaan dan rakyat yang dipimpin. Ketika pejabat tidak tahu empan papan, rakyat bukan hanya kehilangan teladan, tapi juga makin yakin bahwa kursi kekuasaan telah menjadi panggung pertunjukan gaya hidup, bukan pengabdian.@sigit







