IndonesiaBuzz: Teknologi – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan derasnya arus informasi di ruang digital hanya bisa dihadapi dengan kolaborasi erat antara pemerintah dan media. Menurutnya, media kerap lebih didengar publik dibanding pemerintah dalam menyuarakan pesan literasi.
“Kadang kalau media melakukan literasi lebih didengar, daripada kalau pemerintah yang melakukan literasi,” ujar Meutya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (17/9/25).
Data Kementerian Komdigi menunjukkan, lebih dari 226 juta warga Indonesia atau 80,66 persen populasi telah terkoneksi internet dengan rata-rata penggunaan 8 jam 40 menit per hari. Namun, sekitar 50 juta orang masih belum memiliki akses. Tantangan lain muncul pada kelompok anak-anak, di mana 70 persen dari 65 juta anak usia 0–14 tahun sudah aktif menggunakan internet, sementara 80 persen orang tua tidak mengetahui aktivitas digital anak mereka.
“Ini yang menjadi tantangan besar. Salah satu jawabannya ada pada giat-giat literasi yang masif,” tegas Meutya.
Ia juga menyinggung perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) yang semakin pesat, bahkan sudah ada negara seperti Albania yang menunjuk AI sebagai “Menteri”. Meutya menilai media di Indonesia harus terus peka membaca perkembangan ini agar mampu melihat dampak positif maupun negatifnya.
“Media seringkali lebih cepat daripada pemerintah membaca perkembangan. Itu sah saja, kita perlu saling melengkapi, saling mengingatkan, dan berkolaborasi terutama di literasi,” jelasnya.
Meutya menekankan bahwa meski tantangan era digital semakin kompleks, selalu ada peluang di baliknya. Ia memastikan pemerintah membutuhkan mitra strategis untuk memastikan literasi digital menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Media punya peran amat strategis dan pemerintah siap berkolaborasi, tidak hanya dalam menyebarkan informasi yang benar, tetapi juga melakukan literasi di berbagai daerah,” pungkasnya. (Red-)







