IndonesiaBuzz: Urban Culture – Trotoar itu katanya buat pejalan kaki. Nyatanya? Lebih sering jadi etalase parkiran gratis. Motor berjejer, mobil nyelonong, pejalan kaki akhirnya pindah jalur: ke aspal, bersaing sama angkot dan truk.
Ironi ini udah kayak tontonan harian. Pemerintah sibuk kampanye “ayo jalan kaki”, tapi fasilitasnya malah diserobot ban kendaraan. Netizen pun cuma bisa geleng-geleng. “Trotoar untuk pejalan, realita untuk parkiran,” begitu sindiran yang ramai di medsos.
Sesekali ada razia. Aparat datang, kendaraan disapu. Tapi jangan senang dulu, besok-besok balik lagi. Trotoar kosong itu ibarat undangan terbuka: “silakan parkir di sini, gratis, teduh pula.”
Alhasil, hak pejalan kaki tetap jadi teori belaka. Yang jalan malah kendaraan, yang minggir malah manusia. Kota besar makin modern, tapi masalah klasik ini entah kapan tamat episodenya. (red-)







