IndonesiaBuzz: Bojonegoro, 31 Juli 2025 – Di tengah gempuran teknologi digital dan rendahnya minat baca masyarakat, seorang pemuda asal Desa Mulyoagung, Kecamatan Balen, Bojonegoro, berhasil membuktikan bahwa bisnis buku tetap memiliki peluang besar.
Mohamad Junaidi atau yang akrab disapa Mohamad Ij (ije) sukses mengembangkan usaha penerbitan buku yang kini menghasilkan keuntungan hingga Rp6–10 juta per bulan.
Kepada Indonesiabuzz, Ij mengisahkan perjalanan bisnisnya yang dimulai sejak 2017. Saat itu, ia sempat pesimis karena buku dianggap kalah pamor dibandingkan ponsel pintar yang menyediakan berbagai bacaan secara digital. Namun, keyakinannya berubah ketika ia melihat banyak penulis pemula di media sosial yang kesulitan menerbitkan karya mereka.
“Akhirnya saya mantabkan diri untuk bisnis buku. Membantu para penulis agar mudah menerbitkan buku,” ujar Ij, Kamis (31/7/25).
Ij memanfaatkan peluang tersebut dengan mendirikan penerbit Karya Bakti Makmur (KBM Indonesia). Ia fokus menjangkau pendidik seperti guru dan dosen, mahasiswa, serta pecinta sastra. Tak hanya membuka layanan penerbitan, Ij juga rutin mendatangi sekolah dan kampus untuk memberikan motivasi menulis.

Mohamad Junaidi atau yang akrab disapa Mohamad Ij (ije)
“Saya percaya pasar itu bisa dibentuk. Kalau tidak ada penulis maka harus membentuk penulis,” tegasnya.
Hingga kini, KBM Indonesia telah menerbitkan sekitar 800 judul buku selama delapan tahun. Penerbit yang dipimpin Ij juga tercatat sebagai anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan setiap buku yang diterbitkan memiliki nomor ISBN resmi. Keberadaan delapan karyawan di perusahaannya semakin memperkuat layanan yang diberikan kepada para penulis.
Salah satu klien, Mutmaimmah (50), mengaku sangat terbantu dengan layanan KBM Indonesia. “Saya merasa puas, selain profesional juga biayanya terjangkau. Sangat membantu kebutuhan saya sebagai pendidik,” ungkapnya.
Ij menegaskan, meski jumlah pembaca buku tercetak tidak sebanyak media digital, peluang bisnis penerbitan tetap terbuka lebar asalkan dikelola dengan inovasi dan komitmen membangun budaya menulis.
“Buku memang barang aneh di tengah ponsel yang menawarkan segalanya, tapi saya yakin buku punya pembaca setia,” pungkas Ij. (M Tohir/Koresponden Bojonegoro)







