IndonesiaBuzz: Yogyakarta – Bertani sering kali dipandang sebelah mata oleh generasi muda. Identik dengan panas-panasan, lumpur, dan penghasilan tak menentu, pertanian dianggap tidak menarik sebagai pilihan karier. Namun, sekelompok pemuda di Sleman membuktikan bahwa bertani bisa menjadi pilihan hidup yang keren dan bermakna.
Melalui gerakan Petani Muda Jogja, para anak muda ini berupaya mengubah stigma bahwa bertani itu kuno. Salah satu penggagas gerakan ini adalah M Habib Syaifullah, akrab disapa Ipunk. Ia menjelaskan bahwa pandangan negatif terhadap profesi petani masih sangat kuat, bahkan datang dari lingkungan terdekat.
“Akhirnya dari masyarakat, terutama orang tua anak muda itu masih merasa ragu terjun ke pertanian survive secara ekonomi,” ujarnya.Menurut Ipunk, realita bahwa bertani sangat bergantung pada luas lahan menjadi tantangan tersendiri. “Kalau 500 meter paling mentok cukup buat makanlah, susah kayaknya kalau metodenya konvensional gitu. Ada kekhawatiran tidak sejahtera,” lanjutnya. Ia juga membandingkan citra petani di Indonesia dengan petani di negara-negara maju yang terlihat lebih modern.“Negara maju parlente, traktor keren, baju cowboy, teknologi kekinian. Kalau kita kan masih cangkul panas-panasan. Salah satunya juga karena itu mungkin gak terlihat keren,” katanya.
Gerakan Petani Muda Jogja bermula dari diskusi sederhana antara Ipunk yang mewakili Yayasan Bintang Kidul, komunitas pertanian Agro Mulyo, dan seorang petani senior, Pak Wahyu. Mereka membahas berbagai isu penting, mulai dari regenerasi petani muda hingga kerusakan lingkungan akibat pertanian konvensional.“Penggunaan pestisida, pupuk kimia berlebihan, krisis petani muda yang mereka jarang bergelut dan terjun ke dunia pertanian. Lalu kita bikin kelas belajar, mulai sekitar satu tahun lalu dengan anak-anak Yayasan Bintang Kidul, ada sekitar 15–20 orang. Belajar pertanian Agro Mulyo yang sehat dan berkelanjutan,” terang Ipunk.Dari kelas tersebut, lahirlah Petani Muda Jogja sebagai ruang belajar pertanian organik dan berkelanjutan. Mereka mengenalkan peserta pada berbagai tanaman seperti rosela, cabai, tomat, hingga sorgum.“Itu jadi embrio kemudian dinamakan Petani Muda Jogja,” ucapnya.
Kini, Petani Muda Jogja telah berkembang menjadi sekolah tani organik yang terbuka bagi siapa saja. Program mereka mencakup kelas rutin mingguan selama satu musim tanam, workshop, dan bahkan walking tour pertanian.“Bikin berbagai aktivasi pertanian ke anak muda,” ujar Ipunk.Walaupun mayoritas pesertanya adalah anak muda, program ini sebenarnya terbuka untuk umum.“Workshop ini umum, tidak membatasi anak muda, tapi karena kebetulan namanya Petani Muda Jogja, akhirnya yang ikut anak muda,” katanya.Selama tiga bulan, peserta diajak memahami pertanian dari hulu ke hilir.“Teori dan praktik tetap. Jadi mulai awal mengolah lahan, pembibitan, desain pola tanam juga, perawatan, sampai pasca panen. Jadi materi itu mengikuti siklus tanam. Kemarin juga belajar pengawetan tanaman,” tutur Ipunk.Beberapa peserta berlatar pendidikan pertanian, sementara lainnya memutuskan terjun langsung ke dunia pertanian di kampung halaman mereka.
Ipunk melihat pertanian sebagai solusi penting di tengah krisis global, mulai dari perubahan iklim hingga ancaman krisis pangan. Sekarang dunia dihadapkan banyak persoalan terutama dunia sedang ngobrolin perubahan iklim, yang itu tentu saja akan berdampak terhadap ketersediaan pangan. Itu kami rasain juga,” katanya.Ia menilai bahwa isu ketahanan pangan dan energi kini menjadi perhatian utama negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.“Jadi peluangnya (pertanian) besar,” tegasnya.Lebih dari sekadar keterampilan, Ipunk menekankan pentingnya membangun model pertanian yang sehat dan ramah lingkungan.“Terakhir penting untuk diperhatikan melakukan model pertanian yang sehat dan ramah lingkungan. Tidak tergantung pupuk kimia, sintesis,” tandasnya.







