IndonesiaBuzz: Ponorogo, 12 Januari 2025 – Pembangunan Monumen Reog di Ponorogo, yang memiliki tinggi mencapai 126 meter, kini telah mencapai 95 persen. Proyek ini didanai melalui skema Kerja Sama Pemerintah Daerah dan Badan Usaha (KPDBU), menjadikannya salah satu proyek strategis yang mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat.
Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Menko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, dalam acara Gelar Reog Ponorogo: Syukuran Penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO, Sabtu (11/1/2025).
Menurutnya, Monumen Reog akan menjadi destinasi wisata unggulan yang berpotensi besar mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kami yakin jika dikembangkan secara optimal, monumen ini bisa memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Ponorogo. Bahkan, kami perkirakan lebih dari 50 persen PDRB Ponorogo bisa berasal dari kawasan ini,” ujar Susiwijono, seperti dilansir Antara, Minggu (12/1/2025).
Ikon Wisata dan Pusat Pelestarian Budaya
Tidak hanya menjadi ikon wisata, Monumen Reog juga dirancang sebagai pusat edukasi dan pelestarian budaya. Fasilitas pendukung seperti museum peradaban, amfiteater, dan ekosistem seni budaya telah disiapkan untuk mendukung pelestarian tradisi Reog Ponorogo.
“Kami berencana menggelar pameran seni budaya secara berkala dan menyediakan pelatihan bagi pelaku seni untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia,” tambahnya.
Integrasi Wisata Budaya di Kawasan Sekitar
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Kementerian Pariwisata juga berkomitmen untuk bekerja sama dengan enam kepala daerah di sekitar Ponorogo. Langkah ini bertujuan mengintegrasikan destinasi wisata berbasis budaya, sehingga kawasan tersebut menjadi daya tarik wisata yang lebih luas.
Pengakuan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO pada 3 Desember 2024 di Asunción, Paraguay, menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya nasional. Monumen ini diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga setempat.
“Selain memperkuat identitas budaya nasional, monumen ini diharapkan mampu menciptakan peluang ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutup Susiwijono.







