IndonesiaBuzz: News – Peristiwa kereta api Argo Semeru (KA 17) mengalami anjlok dari rel kereta di hilir petak jalan Stasiun Sentolo – Stasiun Wates pada Sabtu (17/10/2023) dan beberapa saat setelahnya, kereta Argo Wilis (KA 6) melintas di hilir yang sama hingga terjadi tabrakan antara keduanya. Sebab, pengereman yang diupayakan tidak cukup memberhentikan kereta hingga terjadi kecelakaan tersebut.
Saat ini, insiden tersebut telah diinvestigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengetahui penyebab terjadinya kecelakaan itu. Melalui investigator IK Perkeretaapian KNKT, Riduan Akbar S, mengungkapkan bahwa faktor utama yang menyebabkan kecelakaan tersebut.
Riduan menjelaskan bahwa kecelakaan tersebut diakibatkan oleh kegagalan dalam mengidentifikasi bahaya yang dapat meningkatkan risiko rel buckling oleh unit jalan rel dan jembatan. Temuan di lapangan menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan dan pemahaman di dalam organisasi jalan rel dan jembatan terkait penentuan jarak celah rel di sambungan rel.

“Terdapat perbedaan pengetahuan dan pemahaman di dalam organisasi jalan rel dan jembatan dalam menentukan jarak celah rel di sambungan rel. Tidak adanya penurunan batas kecepatan operasional Kereta Api (KA) saat kondisi permasalahan geometri jalan rel ditemukan dan perbaikan sedang dilakukan,” jelasnya dalam Konferensi Pers di Kantor KNKT, Jakarta, Jumat (16/2/2024).
Adapun Riduan menjelaskan kronologi kecelakaan yang terjadi pada 17 Oktober 2023 pukul 12.14 WIB, di mana terdapat laporan dari Kaur UPT Resor Jalan Rel 6.3 Wates yang melakukan penugasan Lokride di KA 5 (Argo Wilis) kepada KA UPT Resor Jalan Rel 6.3 Wates bahwa terdapat rel bergelombang di jalur hilir Km 520+4 petak jalan Sentolo – Wates. Selanjutnya Kaur UPT Resor Jalan Rel 6.3 Wates menugaskan personil untuk melakukan perbaikan.
“Pukul 12.46 WIB, Pusat Kendali mendapatkan informasi dari Ka. UPT Resor Jalan Rel 6.3 Wates bahwa lokasi aman untuk dilalui dan informasi tersebut kemudian diteruskan ke masinis KA PLB 571A bahwa kecepatan di jalur hilir Km 520+4 normal,” jelasnya.
pukul 12.54 WIB, KA 571A melewati jalur hilir di Km 520+4 dan masinis KA 571A merasakan goyangan keras. Informasi goyangan keras tersebut kemudian dilaporkan ke Pusat Kendali dan Pusat Kendali meneruskan informasi ini ke Kepala UPT Resor Jalan Rel 6.3 Wates.
“Informasi adanya goyangan keras disampaikan oleh Pusat Kendali kepada masinis KA 17 (Argo Semeru) yang berada di Stasiun Yogyakarta,” jelasnya.
Namun, pada pukul 13.15 WIB, KA 17 mengalami anjlokan di jalur hilir tersebut, yang menyebabkan KA 6 (Argo Wilis) menabrak KA 17. Dari hasil investigasi, KNKT merekomendasikan kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan untuk melakukan evaluasi dan peningkatan pengawasan terhadap prosedur pemeriksaan serta perawatan prasarana perkeretaapian.
Rekomendasi lain yang disampaikan KNKT kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero), untuk mengkaji penyusunan prosedur operasional perjalanan KA agar Pusat Kendali memiliki kewenangan memberhentikan sementara seluruh perjalanan KA yang akan melewati suatu lokasi jalan rel tertentu jika sebelumnya terdapat laporan kondisi goyangan keras di jalan rel tersebut. KNKT juga menekankan perlunya melakukan pemeriksaan, dan perbaikan lebih lanjut pada lokasi jalan rel secara menyeluruh hingga dinyatakan aman bagi perjalanan KA. @wara-e







