IndonesiaBuzz: Wonogiri, 3 Agustus 2025 – Di tengah bentang alam perbukitan selatan Kabupaten Wonogiri, tepatnya di Desa Wates, Kelurahan Bayemharjo, Kecamatan Giritontro, berdiri sebuah anugerah alam yang seolah menolak tunduk pada kekeringan. Namanya Telaga Pindul sebuah telaga yang telah menjadi saksi bisu ratusan musim kemarau, namun tak pernah surut airnya.
Hanya berjarak kurang dari 500 meter dari pemukiman warga, Telaga Pindul berdiri tenang dengan permukaan air yang memantulkan langit biru dan rimbun pepohonan di sekitarnya. Keberadaannya menyatu dengan area ladang Penduduk yang membentang di wilayah perbatasan Desa Bayemharjo dan Desa Tlogoharjo, menciptakan suasana sejuk dan damai bagi siapa saja yang melintas.
Meski airnya tidak layak konsumsi, manfaat telaga ini begitu besar bagi kehidupan masyarakat sekitar. Di musim kemarau, warga memanfaatkannya untuk mengairi ladang, mencuci pakaian, memberi minum ternak, hingga sekadar mandi atau berenang. Telaga seluas 13.223 meter persegi ini seolah menjadi oase abadi di tengah keterbatasan sumber air alami di kawasan Giritontro.
“Selama saya hidup, telaga ini tidak pernah kering sekalipun. Bahkan saat kemarau panjang, airnya tetap mengalir dan sangat membantu warga,” ujar Jumino (60), warga Desa Wates, saat ditemui IndonesiaBuzz, Minggu (3/8/25). “Menurut cerita para sesepuh, telaga ini memang tidak pernah kering sejak dulu,” tambahnya.
Tak hanya menyimpan manfaat nyata, Telaga Pindul juga menyimpan sisi mistis yang dipercaya sebagian masyarakat. Konon, tempat ini sering dijadikan lokasi ‘penitipan’ pesugihan, termasuk legenda Kebo Gupak dan Nyi Blorong. Kepercayaan ini diperkuat dengan adanya sesajen seperti kelapa ijo, kemenyan, dan kembang setaman yang kerap dijumpai setelah malam Jumat Kliwon.

Vegetasi alam yang masih terjaga membuat ketahanan Telaga ini tangguh menghadapi perubahan iklim
Namun di luar kisah-kisah mistis itu, Telaga Pindul tetap menjadi berkah bagi warga. Selain menjadi sumber penghidupan, tempat ini juga menjadi lokasi favorit para pemancing dari sekitar Giritontro yang datang untuk menyalurkan hobi dan menikmati ketenangan alam.
Di tengah perubahan iklim yang semakin tak menentu, Telaga Pindul mengajarkan satu hal penting: bahwa alam memiliki caranya sendiri untuk tetap hidup asal manusia menjaga dan menghormatinya(red).( Yudi S/Koresponden Wonogiri)






