IndonesiaBuzz: Sawahlunto, 2 Februari 2024 – Dalam catatan sejarah yang mendalam, Sumatera Barat, dahulu dikenal sebagai Sumatra Westkust, pernah menjadi pusat pertambangan batu bara terbesar di Asia Tenggara. Menurut penelitian Bimbi Irawan yang tercatat dalam buku “Dari Luhak Ke Rantau: Kronik Pemekaran Nagari”, kota Sawahlunto, saat pertama kali ditemukan oleh Belanda, memiliki cadangan batu bara mencapai 250 ton.
Untuk menggali kekayaan emas hitam dari perut bumi Afdeling Sawahlunto, Pemerintah Kolonial Belanda menggunakan tahanan dari Pengadilan Batavia sebagai pekerja paksa. Sebagaimana yang ditulis oleh Fatris MF dalam bukunya “Merobek Sumatera”, kota ini pernah berjaya di masa lalu dengan melibatkan 11.000 pekerja dari berbagai etnis dengan status yang beragam, termasuk orang rantai.
Tidak sedikit dari mereka yang mengabdikan hidupnya di lubang tambang batu bara Sawahlunto. Beberapa nisan dengan angka-angka tertentu ditemukan tergeletak di Museum Goedang Ransoem Kota Sawahlunto. Museum ini dahulu berfungsi sebagai dapur bagi para pekerja tambang. Fatris juga mengungkapkan bahwa Sawahlunto masa lalu memiliki sejarah sebagai tempat perjudian dan pelacuran.
Meskipun kejayaan masa lalu telah menjadi kenangan, PT Bukit Asam, sebagai pewaris warisan Belanda dalam mengelola tambang, kini tidak lagi beroperasi di Sawahlunto. Salah satu penjaga Homestay Ismail yang pernah bekerja di perusahaan tersebut menjelaskan bahwa emas hitam di perut bumi Sawahlunto kini sudah tidak ada lagi. Jika ada, tentu sangat berbahaya karena kadar gas yang tinggi.
“Saat ini, kekejaman dan masa keemasan hanya menjadi cerita dan tontonan bagi para wisatawan. Jika berkunjung ke Sawahlunto, pengunjung akan disuguhi bangunan-bangunan tua yang diberi label cagar budaya,” ungkapnya.
Beberapa situs wisata dibuka untuk menarik para wisatawan yang ingin menjelajahi sejarah Kota Sawahlunto, termasuk Museum Mbah Soero. Museum ini dibangun di atas lubang tambang dan menampilkan foto-foto masa lalu serta alat-alat pertambangan. Tarif masuk sebesar 10 ribu rupiah sudah termasuk dengan pemandu. Pengunjung juga memiliki kesempatan untuk merasakan sensasi berada di dalam lubang tambang tanpa biaya tambahan, yang diatur oleh pemandu.
Salah satu pemandu, Dio Nofrianto, menjelaskan bahwa lubang tambang tersebut memiliki kedalaman lebih dari 285 meter dengan 6 level. Meskipun tidak beroperasi lagi karena air masuk ke dalam lubang tambang, namun pengunjung dapat mengeksplorasi area tersebut di Kompleks Museum Lubang Mbah Soero.
“Sawahlunto juga memiliki beberapa situs cagar budaya lain yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum, seperti Museum Goedang Ransoem dan Museum Kereta Api,” tambah Nofri.@cinde



