IndonesiaBuzz: Cilacap, 2 Oktober 2025 – Dua siswi SMA Negeri 2 Cilacap, Jawa Tengah, menciptakan inovasi berupa kotak makan pintar yang mampu mendeteksi makanan basi. Alat bernama “Ompreng” ini lahir dari keprihatinan mereka terhadap meningkatnya kasus keracunan makanan, termasuk insiden terbaru dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Alya Meisya N (16) dan Felda Triana W (16), siswi kelas XI jurusan Fisika-Matematika, merancang Ompreng beberapa bulan lalu, jauh sebelum kasus keracunan MBG menjadi sorotan media. “Kami menciptakan alat ini karena prihatin banyak kasus keracunan. Ompreng bisa mendeteksi kebasian makanan, terutama makanan MBG yang dibagikan di sekolah,” kata Alya kepada wartawan, Kamis (2/10/2025).
Ompreng berbentuk kotak makan besar dengan sensor khusus di bagian tutup. Sampel makanan dimasukkan ke dalam kotak, lalu sensor akan membaca kondisi makanan dalam 3-5 menit. Indikator hasil pembacaan menampilkan tingkat keamanan makanan; sensor MQ135 digunakan untuk makanan hewani, sedangkan sensor MQ3 untuk makanan nabati. Apabila indikator melewati batas aman, alat memberikan peringatan. Hasil pembacaan juga bisa dipantau melalui aplikasi Android Blynk IoT yang terhubung via WiFi.
Inovasi ini telah melalui uji laboratorium dan berhasil meraih Juara II dalam ajang AHM Best Student (AHMBS) Regional Jateng-DIY 2025, yang diselenggarakan Astra Honda Motor secara daring pada 11–23 September lalu. “Alhamdulillah dapat juara dua. Harapannya bisa dikembangkan lebih lanjut supaya bermanfaat lebih luas untuk masyarakat,” ujar Alya. Ke depan, ia berencana menyempurnakan Ompreng agar dapat mendeteksi berbagai macam bakteri berbahaya, termasuk E. coli dan Salmonella.
Kepala SMA Negeri 2 Cilacap, Masripah, mengapresiasi inovasi kedua siswi tersebut. Menurutnya, Ompreng lahir dari riset yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. “Sekarang masyarakat butuh jaminan makanan MBG aman. Dengan alat ini, keyakinan itu bisa lebih terjaga,” kata Masripah. Sekolah telah mulai menggunakan Ompreng untuk mengecek makanan MBG sebelum dibagikan. “Kalau hasil pengecekan menunjukkan tidak layak, pembagian makanan langsung dihentikan demi keamanan anak-anak,” tegasnya.







