IndonesiaBuzz: Historia – Banten, yang awalnya merupakan kadipaten di bawah Kerajaan Sunda pada 932 M, berkembang menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan penting di Jawa Barat. Pusat kadipaten berada di Banten Girang, sekitar 13 km selatan Banten Lama saat ini.
Pada 1524, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati tiba di Banten untuk menyebarkan Islam. Setahun kemudian, dengan bantuan pasukan Demak, ia menaklukkan wilayah ini. Tahun 1526 menandai berdirinya Kesultanan Banten, dengan putranya, Maulana Hasanuddin, sebagai penguasa, sementara pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke delta Sungai Cibanten pada 1527.
Banten mencapai kemerdekaan dari pengaruh Demak pada 1552. Sultan-sultan berikutnya membangun berbagai infrastruktur penting, termasuk Keraton Surosowan, Masjid Pacinan Tinggi, Masjid Agung Banten, serta sistem pertanian dan irigasi seperti Tasikardi. Pada 1580, Maulana Muhammad Kanjeng Ratu Banten Surosowan memperindah Masjid Agung dengan porselen, kayu cendana, dan pawestren untuk perempuan.
Sejak 1596, Belanda mulai mengunjungi pelabuhan Banten, dan pada 1602 VOC mendirikan kantor dagang. Masa kejayaan Banten terjadi di bawah Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1680), meski penolakannya bekerjasama dengan VOC memicu perang. Konflik internal dan campur tangan Belanda menyebabkan Sultan Haji naik takhta pada 1683, ditandai dengan pembangunan Benteng Speelwijk sebagai simbol kekuasaan VOC.
Perjanjian dengan VOC pada 1864 menandai kemunduran Banten, yang diperparah sebelumnya oleh Daendels pada 1808 yang merusak Keraton Surosowan. Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles menghapus kesultanan pada 1813. Keraton Kaibon dibangun pada 1815 untuk wali sultan muda, namun akhirnya pada 1832 pemerintah Hindia Belanda menghancurkan total Keraton Surosowan dan Keraton Kaibon, menandai berakhirnya era Kesultanan Banten. @jjpamungkas







