IndonesiaBuzz: 4 Agustus 2025 – Usai melaksanakan prosesi Ngupadi Siti (mengambil tanah) dan Kajeng (mengambil kayu) di area makam Ki Ageng Tarub, rombongan utusan Dalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dipimpin oleh Kanjeng Pangeran (KP) Parno, melanjutkan agenda serupa di makam leluhur Kyai Ageng Selo, Minggu (3/8/25) siang.
Rombongan yang terdiri dari para ulama kraton dan abdi dalem ini menjalankan prosesi adat yang menjadi rangkaian penting dalam Hajad Dalem Bethak atau Adang, upacara sakral yang hanya digelar setiap delapan tahun sekali, bertepatan dengan tahun Dal dalam kalender Jawa.
Prosesi dimulai dengan penyampaian dhawuh (titah) dari SISKS Pakoe Boewono XIII kepada juru kunci Pajimatan Kyai Ageng Selo, tokoh leluhur yang memiliki posisi penting dalam silsilah Raja-raja Mataram Islam. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan ziarah makam. Puncak prosesi adalah pengambilan tanah dari pelataran makam, air dari sumber air yang terdapat di kompleks makam, serta api abadi peninggalan Kyai Ageng Selo.
“Menindaklanjuti dhawuh Sinuhun Pakoe Boewono XIII serta Prameswari Dalem GKR Pakoe Boewono, rombongan utusan dalem melaksanakan pengambilan uborampe (perlengkapan upacara) untuk keperluan Hajad Dalem Bethak tahun Dal 1959,” ungkap KP Parno kepada wartawan.
KP Parno menjelaskan, uborampe yang diambil dari makam Kyai Ageng Selo hampir serupa dengan yang diambil dari makam Ki Ageng Tarub, yaitu tanah dan air. Namun, ada yang membedakan, yaitu pengambilan api abadi peninggalan Kyai Ageng Selo. “Api tersebut nantinya akan digunakan untuk menyalakan kompor dalam Hajad Dalem Bethak,” tambahnya.
Hajad Dalem Bethak atau Adang merupakan tradisi kuno Kraton Surakarta yang digelar sebagai wujud rasa syukur atas keberlimpahan hasil bumi sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan bagi rakyat. Dalam falsafah Jawa, siklus delapan tahun atau windu dianggap sebagai satu putaran waktu yang utuh dan sempurna, sehingga momen tahun Dal menjadi sangat sakral. (NEM)




