IndonesiaBuzz: Wonogiri, 2 Oktober 2026 – Industri batik di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tengah menghadapi tekanan pasar. Pesanan dan penjualan batik disebut menurun dalam setahun terakhir, bahkan membuat produksi sejumlah perajin merosot drastis.
Kondisi tersebut dirasakan pelaku usaha batik menjelang peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober. Di tengah upaya menjaga batik sebagai warisan budaya, para perajin justru harus menghadapi pasar yang belum kembali bergairah.
Salah satunya dialami Mawan Tri Hananto, pemilik usaha Sidobatik di Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri. Ia mengatakan penurunan pesanan telah berlangsung kurang lebih selama satu tahun terakhir.
“Jadi memang kalau saat ini jujur untuk kondisi agak turun, pesanan dan penjualan batik sendiri menurun,” kata Mawan, Kamis (1/10/2026).
Mawan mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab kondisi tersebut. Namun, ia menduga masyarakat kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.
“Jadi mungkin punya uang tapi menahan untuk tidak mengeluarkan uangnya,” ujarnya.
Produksi Anjlok dari 1.000 Potong Jadi Tak Sampai 100
Selama ini, Sidobatik banyak mengandalkan pesanan custom dari instansi maupun lembaga. Dalam sekali pemesanan, jumlahnya biasanya minimal mencapai 15 potong untuk kebutuhan berbagai kegiatan.
Namun, pesanan dalam jumlah tersebut kini semakin jarang datang.
Dampaknya terlihat jelas pada kapasitas produksi. Jika sebelumnya Sidobatik mampu memproduksi sekitar 500 hingga 1.000 potong batik dalam sebulan, kini angka tersebut sulit dicapai.
“Dulu per bulan bisa 500 sampai 1.000 potong, sekarang tidak sampai. Turun sampai kadang 100 potong saja tidak sampai,” ungkap Mawan.
Jika dibandingkan dengan kondisi produksi sebelumnya, penurunan tersebut menunjukkan kontraksi yang sangat tajam. Bahkan pada kondisi tertentu, produksi bulanan Sidobatik tidak mencapai seperlima dari kapasitas yang biasa mereka kerjakan.
Penghasilan 20-25 Karyawan Ikut Terdampak
Lesunya pesanan tidak hanya berdampak pada keberlangsungan usaha. Para pekerja Sidobatik juga ikut merasakan imbasnya.
Saat ini, usaha tersebut mempekerjakan sekitar 20 hingga 25 orang. Penghasilan mereka turut terpengaruh karena pembayaran menyesuaikan dengan jumlah pekerjaan atau pesanan yang masuk.
Mawan bahkan meminta para pekerjanya mencari pekerjaan sampingan untuk menopang pendapatan.
“Saya sudah minta agar teman-teman karyawan cari pekerjaan lain untuk sampingan. Karena kondisinya sudah tidak bisa diandalkan,” kata Mawan.
Menurutnya, kondisi tersebut jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya ketika pesanan masih cukup stabil dan bisa menjadi sumber pendapatan yang dapat diandalkan.
“Beberapa teman-teman kesulitan. Dulu bisa diandalkan, sekarang jauh sekali,” ujarnya.
Sudah Genjot Penjualan Online
Berbagai upaya telah dilakukan Mawan untuk mempertahankan usahanya. Salah satunya dengan memperkuat pemasaran melalui kanal online.
Harga produk juga dibuat kompetitif agar tetap dapat bersaing di tengah kondisi pasar yang lesu.
Namun, strategi tersebut belum mampu mengembalikan volume pesanan seperti sebelumnya.
Mawan pun belum dapat memastikan apakah penurunan permintaan tersebut hanya dirasakan pelaku usaha batik dan konveksi atau juga terjadi pada sektor UMKM lainnya.
“Saya tidak tahu yang lain bagaimana, ini kondisi yang kami alami, yang kami rasakan. Tidak seperti dulu,” katanya.
Minat Batik Dinilai Masih Ada
Di tengah penurunan penjualan, Mawan menilai persoalan tersebut bukan berarti masyarakat kehilangan minat terhadap batik.
Menurut dia, batik masih memiliki pasar karena tidak hanya berfungsi sebagai produk fesyen, tetapi juga menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.
“Kalau peminat batik saya rasa masih banyak, ini fashion budaya yang tidak bisa ditinggalkan,” ucapnya.
Karena itu, ia berharap kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat segera membaik. Menurutnya, pulihnya daya beli akan memberikan efek berantai terhadap keberlangsungan usaha batik dan para pekerjanya.
“Harapannya bisa kembali normal, daya beli masyarakat mungkin bisa kembali bagus sehingga bisa berdampak ke karyawan juga. Efeknya banyak,” ujar Mawan.
Perajin Lain Juga Mengaku Bertahan
Keluhan serupa disampaikan Aris Supriyadi, pelaku usaha batik tulis dan cap di Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri.
Ia mengatakan kondisi para perajin saat ini masih berada dalam fase bertahan karena pesanan belum kembali seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Saat ini teman-teman perajin dalam mode bertahan. Pesanan agak lesu, tidak seperti tahun-tahun lalu,” kata Aris.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para perajin Wonogiri. Di saat batik kembali diperingati sebagai warisan budaya nasional setiap 2 Oktober, pelaku industrinya justru tengah berupaya menjaga agar roda produksi tetap berjalan.
Bagi para perajin, keberlangsungan batik bukan hanya soal mempertahankan sebuah produk budaya, tetapi juga menyangkut mata pencaharian pekerja dan keberlanjutan usaha kecil yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem batik di daerah. (@Yudi S/Koresponden Wonogiri).







