IndonesiaBuzz: Celoteh – Seorang pengguna media sosial menulis “Katanya hidup tak semudah membalikkan tangan. Tapi nyatanya dompet saya bisa kosong hanya dalam satu scroll Shopee.” Ribuan warganet langsung membanjiri kolom komentar dengan emotikon tertawa sebagian merasa terwakili, sebagian lagi menyerah pada kenyataan.
Inilah era ketika humor receh menjadi semacam pelarian kolektif dari tekanan hidup. Lucu, sederhana, kadang absurd. Tapi justru di situlah letak kekuatannya: ia menggelitik sekaligus menyentil.
“Receh itu bukan berarti bodoh. Justru, humor receh yang cerdas bisa jadi bentuk kritik sosial yang paling halus,” ujar Ajie Restu, komika dan pengamat budaya pop, kepada Tempo.
Ajie menyebut tren “Ngakak of The Day” di berbagai platform digital sebagai bentuk baru dari stand-up comedy yang dikemas dalam format meme, caption pendek, atau video singkat. Isinya seputar fenomena sehari-hari dari keuangan menipis menjelang gajian, kemacetan di pagi hari, hingga hubungan asmara yang kandas tanpa status.
“Di balik tawa itu, ada realitas yang dekat dengan semua orang,” katanya.
Dalam beberapa kasus, humor receh bahkan menjadi medium pembuka untuk isu yang lebih serius: mental health, tekanan kerja, atau relasi sosial yang timpang. “Saya suka ngetwit konyol soal bos toxic,” kata Dita (25), seorang admin media sosial. “Tapi yang baca tahu, itu sindiran beneran.”
Fenomena ini memperlihatkan bahwa humor ringan, bila dikemas dengan konteks yang tepat, bisa berfungsi sebagai cermin sosial. Ia tak hanya menghibur, tapi juga menggugat.
“Orang Indonesia memang pintar menyembunyikan krisis di balik tawa,” ujar Ajie, sembari tertawa kecil.







