IndonesiaBuzz: Sorong, Papua Barat Daya – Suara decit papan kayu menjadi saksi bisu kehidupan sulit di Kampung Rufei, tempat yang dihuni oleh tiga suku Imeko: Inanwatan, Metemani, dan Kokoda. Jembatan penghubung, rumah-rumah panggung, dan dinding-dinding yang terbuat dari kayu papan menyusun pemandangan suram di atas rawa air payau dengan sampah menumpuk di bawahnya.
Kampung ini, yang awalnya dibangun di lahan tempat pasar modern Rufei akan dibangun, menjadi rumah bagi penduduk yang tergusur dan dipaksa hengkang dari tanah yang telah mereka tempati puluhan tahun. Uang ganti rugi sebesar Rp 2 juta adalah kompensasi yang didapat oleh warga untuk meninggalkan lahan mereka, dan sejak tahun 2003, mereka terpaksa tinggal di rumah panggung di atas lahan orang.
Keturamudai, salah satu warga, mengungkapkan kenyataan pahit bahwa mereka tidak memiliki izin untuk membangun rumah di lahan tersebut karena dimiliki oleh perusahaan minyak. Uang ganti rugi yang minim membuat mereka tidak mampu membeli lahan baru, dan sebagai gantinya, mereka membangun rumah panggung di atas rawa air payau.
Rumah-rumah yang mereka tempati saat ini tidak dapat disebut layak, dengan dinding yang tidak rapat dan atap seng yang sudah berkarat. Setiap rumah dapat dihuni oleh tiga hingga empat keluarga, dan kondisi sanitasi sangat buruk, dengan toilet yang langsung menuju ke rawa tempat rumah warga dibangun.
Ironisnya, Kampung Rufei yang dulunya memiliki rumah-rumah sendiri, kini hanya berjarak 9 kilometer dari Bandara Domine Eduard Osok, dekat pusat kota Sorong. Meskipun berada di Indonesia, warga Kampung Rufei menjalani kehidupan seperti pengungsi selama 21 tahun.
Pendidikan di kampung ini menjadi kendala utama, dengan biaya yang mahal membuat anak-anak harus berhenti sekolah. Keturamudai, seorang pedagang di pasar, mengungkapkan bahwa anaknya yang berada di kelas 12 SMA terpaksa berhenti karena biaya ujian sebesar Rp 1,5 juta yang tidak mampu mereka bayar.
Dalam harapannya menjelang pemilihan umum, Keturamudai berharap agar pemimpin yang terpilih dapat mengubah nasib Kampung Rufei, memberikan bantuan rumah, dan membuka harapan baru bagi penduduk yang telah lama terpinggirkan.@cinde







