IndonesiaBuzz: Digital Life – Kamu buka Instagram. Teman SMA lagi liburan ke Jepang. Teman kuliah baru lamaran. Adik kelas dulu udah punya startup. Sementara kamu? Lagi makan mie instan, nungguin notifikasi yang nggak kunjung datang.
Satu menit lihat Instastory orang lain bisa bikin kita merasa hidup sendiri seperti… versi beta yang belum dirilis. Semua tampak bahagia, produktif, estetik, dan on track. Tapi entah kenapa, setelah scroll beberapa story, bukannya termotivasi malah muncul rasa… anxious.
Pertanyaan besar pun muncul: kenapa kita malah ngerasa kosong setelah melihat kehidupan orang lain yang ‘sempurna’?
Mesin Pamer Bernama Media Sosial
Mari kita mulai dari realita pahit: Instastory bukan cerminan hidup, tapi highlight show. Orang posting hal-hal terbaik, tersukses, terglamour, yang seringkali cuma potongan kecil dari realitas yang jauh lebih berantakan.
Dan algoritma? Dia menampilkan konten yang paling bikin kita nempel di layar. Itu artinya, postingan paling bahagia, paling viral, paling bikin iri… bakal muncul duluan.
Menurut studi Archrival (2023), lebih dari separuh Gen Z aktif membentuk identitas digital mereka berdasarkan apa yang ingin mereka tampilkan, bukan siapa mereka sebenarnya . Media sosial jadi panggung, bukan cermin. Yang tampil adalah peran yang sudah dikurasi. Lengkap dengan filter, lighting, dan caption yang sudah diedit berkali-kali.
Nggak heran kalau akhirnya muncul fenomena toxic positivity—di mana semua orang seolah dipaksa untuk tampil bahagia, bersyukur, dan healing terus… bahkan saat mereka sedang stres atau kacau.
FOMO: Fear of Missing Out, Secara Berkala
Toxic positivity ini berkawan karib dengan satu makhluk digital lainnya: FOMO alias fear of missing out.
Kita takut ketinggalan: ketinggalan info, ketinggalan momen, ketinggalan hidup.
Scroll story orang lain yang pesta ulang tahun mewah, sementara kamu lagi rebahan dengan daster bolong… bikin muncul pertanyaan eksistensial:
“Kenapa hidup gue nggak semeriah itu?”
Survei Cropink (2025) menyebutkan bahwa 64% Gen Z merasa overwhelmed oleh banyaknya konten bahagia di media sosial, dan merasa mereka “tertinggal” dibanding teman-temannya . Yang menarik, sebagian besar tahu kalau apa yang mereka lihat bukan realitas utuh, tapi tetap aja merasa kalah.
Itulah ironi generasi kita: tahu itu palsu, tapi tetap merasa gagal.
Ada Apa di Balik Story Bahagia?
Psikolog menyebut fenomena ini sebagai perang identitas diam-diam. Saat semua orang mem-branding diri di media sosial, kita terjebak di antara dua keinginan:
- Ingin tampil bahagia dan sukses,
- Tapi juga ingin jadi diri sendiri.
Sayangnya, yang kedua sering kalah karena algoritma tidak memberi panggung untuk “kejujuran.” Yang menang adalah konten yang relatable tapi estetis, sedih tapi masih cantik. Story curhat harus tetap pakai filter Valencia.
Dan itu melelahkan.
Apalagi kalau kita ikut-ikutan posting hanya untuk “membuktikan kita juga bahagia”. Padahal kenyataannya, habis posting malah overthinking:
“Kok views-nya cuma segini?”
“Kenapa dia nggak reply?”
“Aku keliatan desperate nggak, ya?”
Akhirnya, kita terjebak dalam lingkaran setan validasi. Pamer → tunggu reaksi → insecure → posting lagi. Begitu terus sampai baterai habis… dan mental pun ikut low-batt.
Solusi Setengah Serius: Kurangi, Kurasi, atau Cut Off
Tenang, belum terlambat untuk mengambil kembali kendali.
Kalau kamu merasa makin nggak bahagia tiap buka story orang lain, mungkin ini saatnya:
1. Kurangi Screen Time
Set timer. Pakai mode fokus. Bahkan log out kalau perlu.
Menurut Vogue India (2024), banyak Gen Z mulai menetapkan hari tanpa media sosial sebagai bagian dari mental hygiene rutin .
2. Kurasi Konten dengan Sadar
Unfollow akun yang bikin kamu ngerasa nggak cukup. Follow akun yang jujur, lucu, atau memberdayakan. Algoritma bisa dilatih—feed kamu bisa kamu bentuk sesuai versi paling sehat dari dirimu .
3. Cut Off Budaya Pamer
Coba posting hal kecil yang nyata: air mata habis nonton film, tumpukan cucian, atau mie instan buatan sendiri. Bukan untuk drama, tapi untuk normalisasi kenyataan.
Karena hidup itu nggak harus selalu aesthetic. Kadang cukup… autentik.
Bahagia Itu Nggak Harus Diposting
Instastory adalah alat. Dia bisa jadi jendela inspirasi atau jerat kecemasan—tergantung siapa yang pegang kendali.
Kalau kamu mulai ngerasa hidupmu nggak cukup baik karena terlalu sering lihat hidup orang lain, ingat satu hal:
Hidup orang lain yang kamu lihat cuma versi editan.
Sementara kamu hidup di versi asli.
Dan versi asli itu—dengan segala chaos, gagal, dan gak ada filter—justru yang paling layak dijalani. @wartonagoro







