IndonesiaBuzz: Nusantara – Di dataran tinggi Dieng, khususnya Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, ada fenomena unik yang tak ditemukan di tempat lain: anak-anak dengan rambut gimbal alami yang tumbuh tanpa disisir dan tak bisa diatur. Mereka dikenal masyarakat sebagai bocah gimbal, sosok yang diyakini membawa pesan leluhur dan memiliki keterikatan dengan alam mistis Dieng.
Legenda: Titisan Penjaga Dieng
Masyarakat setempat percaya bocah gimbal bukan sekadar anomali biologis. Menurut cerita rakyat, kemunculan mereka berhubungan dengan Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Rence, tokoh mitologi yang dipercaya mendapat wahyu dari Nyi Roro Kidul untuk menjaga kesejahteraan Dieng. Dalam versi lain, Nyai Roro Ronce—penguasa gaib Dieng—digambarkan sebagai sosok berambut gimbal yang menitipkan anak-anak sakti berambut serupa kepada warga.
Keyakinan itu membuat bocah gimbal selalu dihormati. Kehadiran mereka dipandang sebagai pertanda baik; konon, semakin banyak anak gimbal yang lahir, semakin makmur masyarakat Dieng.
Prosesi Ruwatan: Permintaan Anak adalah Titah
Rambut gimbal tak boleh dipotong sembarangan. Tradisi menuntut, prosesi ruwatan hanya dilakukan jika sang anak sendiri sudah meminta. Sebelum itu, keluarga tidak boleh memaksa.
Ritual diawali dengan pengambilan air suci dari tujuh mata air Dieng oleh para tetua adat. Sesaji, doa, dan arak-arakan mengiringi jalannya upacara. Ada syarat lain yang tak kalah penting: anak gimbal berhak mengajukan satu permintaan khusus—mulai dari mainan sederhana hingga hewan peliharaan. Permintaan itu harus dipenuhi agar ritual berjalan lancar.
Puncak ruwatan berlangsung di kompleks Candi Arjuna. Rambut gimbal dipotong dengan penuh khidmat, kemudian dilarung ke telaga atau rawa yang masih berada di kawasan candi. Tindakan itu dimaknai sebagai pengembalian rambut kepada alam dan penguasa gaib, khususnya Kanjeng Ibu Laut Selatan.
Makna Spiritual: Harmoni dengan Alam dan Leluhur
Bagi masyarakat Dieng, ruwatan bukan sekadar pemotongan rambut. Ia adalah laku spiritual untuk memurnikan anak dari gangguan gaib sekaligus menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.
Ritual ini juga merefleksikan makna nama Dieng sendiri: Di-Hyang, tempat bersemayamnya para dewa. Dengan melibatkan elemen suci—air, candi, telaga—ruwatan gimbal dipandang sebagai doa kolektif agar anak yang diruwat tumbuh sehat, masyarakat sejahtera, dan alam tetap lestari.
Warisan Budaya dan Daya Tarik Wisata
Di era modern, fenomena bocah gimbal tetap terjaga. Pemerintah daerah bahkan menjadikannya agenda budaya tahunan dalam Dieng Culture Festival, menarik ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara. Meski begitu, inti prosesi tetap sakral—dipandu sesepuh adat dan dihormati seluruh warga.
Tradisi ini menunjukkan bagaimana warisan mistis bisa tetap hidup di tengah gempuran modernitas, menjadi identitas unik sekaligus aset budaya yang memperkuat citra Dieng sebagai “negeri di atas awan” dengan sejuta pesona. @jjpamungkas







