IndonesiaBuzz: Bojonegara, 26 September 2025 – Di tengah kian jarangnya tanaman gerut dijumpai, seorang warga Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, berhasil mengubah ubi tradisional ini menjadi camilan bernilai ekonomi tinggi. Ana Nurhayati, nama perempuan itu, telah 15 tahun konsisten mengolah gerut menjadi emping gurih yang kini merambah pasar nasional hingga internasional.
Awalnya, Ana hanya coba-coba.
“Kalau dimakan biasa saya kurang suka. Tapi ketika saya olah jadi emping, ternyata enak dan nagih. Akhirnya saya produksi sekalian untuk dijual,” ujarnya, Jumat (26/9/25).
Proses pembuatan emping gerut masih sepenuhnya tradisional. Irisan gerut digeprek hingga pipih, lalu dijemur di bawah terik matahari. Teknik manual ini justru menjadi daya tarik tersendiri.
“Semua masih dikerjakan manual, mulai dari digeprek sampai dijemur. Karena itu rasanya masih sangat otentik dan alami,” tutur Ana.
Kini, emping gerut produksinya tak hanya laris di Bojonegoro. Pasarannya merambah kota kota besar seperti Jakarta, Semarang, hingga luar pulau di Nusa Tenggara Barat. Bahkan, produknya sudah diekspor ke Singapura dan Jepang.
Produksi Ana mencapai 20 sampai 30 kilogram gerut per hari dengan omzet Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan. Pada musim tertentu, pendapatan kotor bisa menembus Rp40 juta. Usaha ini juga membuka lapangan kerja bagi empat tetangga yang membantunya mengolah emping.
Selain emping, Ana mengolah sisa gerut menjadi tepung pati yang juga bernilai jual tinggi dan bermanfaat bagi kesehatan. Hanya saja, gerut baru bisa dipanen enam bulan sekali, sehingga pasokan bahan baku harus dikelola dengan hati hati.
Ke depan, Ana berencana menambah pasokan bahan agar mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
“Kami ingin memperluas produksi, tapi tetap mempertahankan cara tradisional agar cita rasa khasnya tidak hilang,” pungkasnya. (M.Tohir /Koresponden Bojonegoro)







