IndonesiaBuzz: Lombok Tengah, 10 September 2026 – Sisa-sisa kebakaran masih terlihat di permukiman adat Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Kayu-kayu yang menghitam dan reruntuhan bangunan menjadi jejak kebakaran yang melanda kawasan tersebut pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026.
Namun, duka belum sepenuhnya usai. Di tengah puing-puing bangunan, kehidupan warga perlahan kembali bergerak.
Pada Rabu sore,(9/9/26), sejumlah warga terlihat bergotong royong membangun kembali rumah-rumah yang terdampak kebakaran. Aktivitas pembangunan dilakukan secara swadaya dengan melibatkan masyarakat setempat.
Material yang masih dapat digunakan dimanfaatkan kembali. Warga bekerja bersama, mulai dari menyiapkan konstruksi hingga mendirikan kembali bagian-bagian rumah yang sebelumnya terbakar.
Salah seorang warga Dusun Sade, Itok Sanadi (38), mengatakan proses pembangunan kembali permukiman kini telah memasuki tahap rekonstruksi fisik. Warga menargetkan rumah-rumah yang terdampak dapat kembali berdiri paling lambat dalam waktu dua bulan.
“Insyaallah kalau ini, paling lambat dua bulan sudah jadi. Karena pondasi masih ada, dan kayu-kayunya sudah disetel dari bawah, tinggal langsung diangkat saja,” ujar Itok di lokasi pembangunan, Rabu (9/9/26).
Menurut Itok, pondasi rumah yang masih tersisa menjadi salah satu faktor yang mempercepat proses pembangunan. Selain itu, kayu untuk konstruksi telah dipersiapkan dan disesuaikan sejak bagian bawah sehingga pemasangannya dapat dilakukan lebih cepat.
Meski demikian, proses pemulihan bukan tanpa kendala. Bagian atap menjadi salah satu pekerjaan yang membutuhkan waktu lebih lama.
Permukiman adat Sade menggunakan alang-alang sebagai material atap rumah. Di sisi lain, sebagian besar warga juga tengah disibukkan dengan pembangunan rumah masing-masing setelah kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran.
“Yang agak lambat ini bagian pembuatan atap alang-alang. Karena warga sibuk membangun rumah masing-masing, jadi itu yang membuat pembuatan atapnya sedikit memakan waktu. Kita kan menggunakan atap alang-alang,” kata Itok.
Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 20.30 Wita pada 22 Agustus lalu tersebut berdampak terhadap kurang lebih 78 bangunan di kawasan permukiman adat Sade. Hampir seluruh kawasan terdampak, meninggalkan kerusakan pada bangunan dan harta benda milik warga.
Kini, proses pemulihan dilakukan secara bertahap. Warga membersihkan sisa-sisa bangunan yang terbakar sekaligus mendirikan kembali rumah-rumah mereka.
Di tengah kawasan yang masih menyisakan bekas kebakaran, semangat gotong royong menjadi kekuatan warga untuk bangkit. Mereka tidak menunggu permukiman kembali pulih dengan sendirinya, tetapi bergerak bersama membangun kembali tempat tinggal yang menjadi bagian dari kehidupan dan tradisi masyarakat Sade.
Pembangunan tersebut bukan sekadar memulihkan bangunan yang terbakar. Bagi warga, mendirikan kembali rumah berarti menghidupkan kembali aktivitas dan kehidupan di permukiman adat yang telah menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat.
Target dua bulan menjadi harapan baru bagi warga Sade. Dari kayu-kayu yang hangus dan reruntuhan yang tersisa, perlahan rumah-rumah kembali didirikan.
Kebakaran memang meninggalkan luka. Namun, gotong royong menunjukkan bahwa kehidupan di permukiman adat Sade mulai menemukan jalannya untuk bangkit kembali. @yudi







