IndonesiaBuzz: Digital life – Media sosial tak hanya mengubah cara orang berinteraksi, tapi juga melahirkan bahasa baru yang jadi tren di kalangan anak muda. Istilah seperti “slay”, “nolep”, “bestie”, hingga “cuan” kini akrab di telinga generasi digital.
Fenomena ini dikenal dengan istilah digital slang, yaitu kosakata yang lahir, berkembang, dan menyebar melalui percakapan daring. Tak butuh waktu lama, kata-kata itu pun menyeberang ke kehidupan sehari-hari.
Misalnya “slay”, yang awalnya populer di kalangan komunitas global, kini dipakai untuk memuji penampilan seseorang. Lalu ada “nolep” atau no life, yang menggambarkan orang terlalu sibuk dengan dunia virtual. “Bestie” jadi panggilan akrab untuk sahabat, sementara “cuan” digunakan untuk menyebut keuntungan.
Pakar bahasa menyebut perubahan ini bagian dari dinamika bahasa perkotaan. Media sosial berperan sebagai akselerator, membuat satu istilah bisa viral dalam hitungan jam, lalu bertahan jadi kosakata gaul.
Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana identitas generasi muda dibentuk. Pemakaian slang bukan sekadar gaya bicara, tapi juga simbol keakraban, keanggotaan komunitas, bahkan eksistensi diri di ruang digital.
Meski begitu, ada catatan penting. Penggunaan berlebihan dalam konteks formal bisa menimbulkan salah paham. Karena itu, kemampuan menempatkan gaya bahasa sesuai situasi menjadi bagian dari literasi digital yang perlu dikuasai.
Pada akhirnya, digital slang akan terus lahir dan berganti seiring munculnya tren baru di media sosial. Hari ini orang ramai bilang “slay”, besok bisa jadi berganti dengan istilah lain yang lebih segar.







