IndonesiaBuzz: Jakarta, 7 Juni 2024 – Harga batu bara global mengalami penurunan tajam dalam tiga hari terakhir, dipicu oleh melemahnya permintaan dari China, konsumen terbesar batu bara dunia. Penurunan permintaan ini terjadi seiring dengan peningkatan kapasitas energi terbarukan di negara tersebut.
Penurunan Harga Batu Bara
Harga batu bara acuan global New Castle untuk kontrak Juli 2024 tercatat mengalami penurunan sebesar 0,8% pada Kamis, 6 Juni 2024, menjadi US$135,9 per ton. Selama sebulan terakhir, harga batu bara telah jatuh 7% dari harga US$145,95 per ton pada 6 Mei 2024.
Peningkatan Kapasitas Energi Terbarukan di China
Laporan Badan Energi Internasional (IEA) mengungkapkan bahwa China memasang hampir 350 gigawatt (GW) kapasitas energi terbarukan baru pada tahun 2023. Angka ini lebih dari separuh total kapasitas global. Jika China mempertahankan kecepatan ini, kemungkinan besar mereka akan melampaui target tahun 2030 pada tahun ini.
Target formal China adalah memiliki kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga angin dan surya sebesar 1.200 GW pada tahun 2030. Namun, pada April tahun ini, kapasitas tersebut sudah mencapai 1.130 GW. Pemodelan IEA berdasarkan ambisi dekarbonisasi China memperkirakan bahwa negara ini akan memiliki lebih dari 3.000 GW kapasitas energi terbarukan pada akhir dekade ini, termasuk tenaga air.
Dampak pada Pasar Batu Bara Global
China, sebagai pengguna batu bara terbesar dunia, memainkan peran penting dalam permintaan global. Dengan peningkatan kapasitas energi terbarukan, permintaan batu bara dari China diperkirakan akan terus menurun, berdampak signifikan pada pasar global. Hal ini membuat harga batu bara terus tertekan.
Peluang di Negara Lain di Asia
IEA juga mencatat bahwa peluang besar ada di negara lain di Asia. Kawasan Asia-Pasifik memiliki rencana untuk menghasilkan hampir 1.200 GW energi terbarukan pada tahun 2030, berdasarkan target dari berbagai negara. India, misalnya, berencana menambah kapasitas bahan bakar non-fosil sebesar 500 GW pada tahun 2030, yang mencakup 293 GW tenaga surya dan 100 GW tenaga angin.
Anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) juga menunjukkan ambisi besar dengan target mencapai 225 GW energi terbarukan pada tahun 2030. Vietnam memimpin dengan 84 GW, diikuti oleh Indonesia dengan 44 GW, dan Filipina dengan 30 GW.
Kesimpulan
Peningkatan kapasitas energi terbarukan di China berdampak besar pada penurunan harga batu bara global. Sementara itu, negara-negara lain di Asia juga menunjukkan komitmen kuat terhadap energi terbarukan, yang akan mengubah lanskap energi di kawasan ini dalam beberapa tahun mendatang. @cinde







