IndonesiaBuzz: Jakarta, 21 Juni 2025 – Pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, mengungkap fakta mengejutkan tentang kehidupan pribadinya. Dalam sebuah wawancara yang dikutip dari News18 dan Business Insider, pria yang dikenal sebagai tokoh teknologi global itu menyatakan bahwa ia telah melakukan praktik donor sperma selama 15 tahun dan kini memiliki lebih dari 100 anak biologis yang tersebar di 12 negara.
Inisiatif ini bermula dari permintaan pribadi seorang sahabat yang mengalami masalah kesuburan bersama istrinya. Diminta untuk menjadi donor sperma, Durov awalnya menganggap hal itu sebagai candaan. Namun, setelah menyadari keseriusan permintaan tersebut, ia memutuskan untuk melakukannya sebagai bentuk kontribusi sosial.
“Saya awalnya tertawa, tetapi kemudian menyadari bahwa ia sangat serius. Dari situlah semuanya dimulai,” ujar Durov.
Sejak pengalaman pertamanya, Durov mendaftar sebagai pendonor resmi di beberapa klinik kesuburan dan secara rutin mendonasikan spermanya. Aktivitas tersebut, menurut pengakuannya, berlangsung selama bertahun-tahun hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti. Meski demikian, beberapa klinik disebut masih menyimpan sampel beku spermanya untuk digunakan secara anonim oleh pasangan yang membutuhkan.
“Aktivitas donasi saya telah membantu lebih dari seratus pasangan dari 12 negara. Bahkan setelah saya berhenti, setidaknya satu klinik masih memiliki sperma beku saya,” kata Durov.
Dalam perkembangan terbaru, pria yang diperkirakan memiliki kekayaan bersih sekitar 14 miliar dolar AS (sekitar Rp224 triliun) ini juga mengungkapkan bahwa ia menyusun surat wasiat baru yang mencakup semua anaknya—baik yang lahir secara langsung maupun dari proses donor sperma.
“Saya tidak membeda-bedakan anak-anak saya. Baik yang dikandung secara alami maupun dari sumbangan sperma saya, semuanya memiliki hak yang sama,” tegasnya.
Namun demikian, Durov memutuskan bahwa seluruh warisan tersebut baru akan dapat diakses oleh anak-anaknya setelah 30 tahun ke depan, sesuai dengan kebijakan yang ia tetapkan dalam surat wasiat tersebut.
“Saya menulis surat wasiat baru-baru ini. Anak-anak saya tidak akan memiliki akses ke kekayaan saya sampai 30 tahun dari sekarang,” tuturnya.
Langkah Pavel Durov ini menarik perhatian publik dan menjadi perbincangan di berbagai platform global. Di satu sisi, tindakannya dianggap sebagai bentuk filantropi personal yang tidak lazim namun berdampak nyata bagi keluarga-keluarga yang kesulitan mendapatkan keturunan. Di sisi lain, keputusan untuk menyetarakan hak seluruh anaknya, termasuk yang berasal dari donor sperma, memunculkan diskusi etis dan hukum seputar definisi ayah biologis dan hak waris.







