IndonesiaBuzz: Surakarta, 29 Januari 2025 – Wali Kota Solo, Teguh Prakosa, menjadi korban kepruk harga saat memborong jajanan telur gulung dalam acara Grebeg Sudiro di Jebres, Solo, Minggu (26/1/2025). Niat baiknya untuk melarisi dagangan pedagang kaki lima (PKL) justru dimanfaatkan oleh penjual yang mematok harga tidak sewajarnya.
Kejadian tersebut terekam dalam sebuah video yang kemudian viral setelah diunggah oleh akun Instagram @mlampahsolo pada hari yang sama. Dalam video tersebut, terlihat dagangan berupa telur gulung dan sosis disusun dalam cangkir plastik atau cup, dengan setiap cup berisi empat telur gulung dan tiga tusuk sosis.
Dagangan tersebut langsung ludes diserbu masyarakat yang menyaksikan pembukaan kirab Grebeg Sudiro di depan panggung utama. Namun, permasalahan muncul ketika pedagang tersebut menerima uang pembayaran dari seorang pria, tetapi menganggap jumlahnya kurang.
“Ini 80 biji, Rp800 ribu. Waduh, piye iki?” kata pedagang tersebut, yang kemudian mendapat respons dari warga yang berada di lokasi.
Pedagang itu mengklaim bahwa harga per cup adalah Rp10.000 dan menyebut telah menjual sebanyak 80 cup, sehingga total harga yang harus dibayarkan mencapai Rp800.000.
Kapolsek Jebres, Kompol Murtiyoko, saat dikonfirmasi pada Selasa (28/1/2025), membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyayangkan tindakan pedagang yang memanfaatkan niat baik Wali Kota Solo untuk meraih keuntungan yang tidak masuk akal.
“Ajudan Wali Kota saat itu sudah memberi uang Rp250.000, namun pedagang tidak terima dan meminta Rp800.000,” ujar Murtiyoko dilansir dari Espos.
Setelah dilakukan dialog dengan pedagang yang ternyata merupakan warga Klaten dan menjualkan barang dagangan milik orang lain, diketahui bahwa jumlah cup yang diklaim tidak sesuai kenyataan.
“Saat ditemui, pedagang masih kukuh dengan argumennya bahwa dia membawa 80 cup. Padahal, jika dihitung, nampan tersebut hanya bisa terisi maksimal 30 cup. Tumpukan di nampan hanya berisi 28 cup dengan ukuran 4 cup untuk lebarnya dikali 7 cup untuk panjang,” jelasnya.
Selain itu, di atas nampan tidak hanya terdapat jajanan, tetapi juga botol saus, botol mayones, dan cup kosong.
Murtiyoko menyayangkan sikap pedagang dan mengimbau agar kejadian serupa tidak terulang. Ia meminta para pedagang untuk jujur dalam berdagang dan tidak memanfaatkan situasi demi keuntungan sepihak.
“Kami juga mengimbau panitia penyelenggara agar lebih memperhatikan hal-hal kecil seperti ini, yang meskipun sepele, bisa menimbulkan kegaduhan,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa peristiwa semacam ini bisa berdampak negatif terhadap citra Kota Solo sebagai destinasi wisata yang ramah.
Sementara itu, Wali Kota Solo, Teguh Prakosa, sendiri menanggapi kejadian tersebut dengan santai dan pasrah. Ia menyatakan bahwa niatnya hanyalah membantu melarisi dagangan PKL.
“Ya, nggak apa-apa, dikasih saja. Habis mau bagaimana? Mau diapain? Benar atau tidak, diserahkan pada mereka saja. Kita niatnya hanya ingin ngelarisi,” ujar Teguh saat ditemui awak media di Swiss Belhotel Solo, Senin (28/1/2025).
Kejadian ini menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat dan pedagang untuk tetap menjaga kejujuran dan etika dalam berdagang, terutama dalam acara besar seperti Grebeg Sudiro yang menjadi daya tarik wisata di Kota Solo.







