IndonesiaBuzz: Wonogiri, 8 Juli 2026 – Pemerintah Kabupaten Wonogiri terus memperkuat pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah. Hal itu ditandai dengan dibukanya secara resmi rangkaian Ritual Ngreksa Bumi oleh Bupati Wonogiri Setyo Sukarno di Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Selasa (7/7/26), dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa Tahun Be 1960, Tahun 1448 Hijriah, dan Tahun 2026 Masehi.
Ritual Ngreksa Bumi merupakan tradisi tahunan masyarakat Desa Conto yang diwujudkan melalui upacara adat sedekah hasil bumi dan bersih desa sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil pertanian dan keberkahan alam yang menopang kehidupan masyarakat.
Perayaan tersebut tidak hanya menjadi ruang spiritual masyarakat, tetapi juga menjadi panggung pelestarian budaya melalui kirab budaya, pertunjukan kesenian tradisional, hingga kenduri bersama menggunakan gunungan hasil bumi yang kemudian diperebutkan warga dan pengunjung sebagai simbol keberkahan.
Dalam sambutannya, Bupati Setyo Sukarno menilai Ritual Ngreksa Bumi memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi atraksi wisata budaya yang mampu mengangkat identitas lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Kami berharap acara ini dapat berkembang menjadi atraksi wisata budaya yang mampu mengangkat potensi adat, budaya, pertanian, dan pariwisata Desa Conto. Dengan dukungan promosi melalui media sosial maupun dari mulut ke mulut, potensi desa diharapkan semakin dikenal luas dan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat,” ujar Setyo.
Bupati memberikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Conto bersama tokoh masyarakat, sesepuh, dan generasi muda yang terus menjaga keberlangsungan tradisi tersebut di tengah derasnya perubahan sosial dan perkembangan zaman.
Menurutnya, keberhasilan menjaga ritual adat bukan sekadar mempertahankan sebuah seremoni tahunan, melainkan menjaga identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.
“Semoga Ritual Ngreksa Bumi ini mampu mengharumkan nama Desa Conto dan Kabupaten Wonogiri, serta membawa masyarakat menuju kehidupan yang aman, tenteram, dan sejahtera,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya memerlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi tidak tergerus modernisasi.
Lebih jauh, Setyo Sukarno menilai Ngreksa Bumi tidak hanya mengandung makna spiritual berupa rasa syukur atas hasil bumi, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.
Menurutnya, tradisi tersebut merefleksikan filosofi masyarakat agraris Jawa yang memandang bumi sebagai sumber kehidupan yang harus dirawat, bukan sekadar dimanfaatkan.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga mengapresiasi sosok Mbah Sadiman, penerima Penghargaan Kalpataru, yang dinilainya menjadi teladan nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui upaya penghijauan kawasan hutan selama puluhan tahun.
Keteladanan tersebut, kata Setyo, menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap alam mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan masyarakat sekaligus menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
Ritual Ngreksa Bumi tidak hanya dipandang sebagai agenda budaya, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendukung pengembangan desa berbasis potensi lokal. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan pada setiap penyelenggaraan tradisi, sektor ekonomi masyarakat seperti pelaku UMKM, pertanian, kuliner, hingga industri kreatif desa turut memperoleh manfaat.
Pemerintah Kabupaten Wonogiri berharap sinergi antara pelestarian budaya, pengembangan pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat mampu menjadikan Desa Conto sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Wonogiri tanpa menghilangkan nilai-nilai sakral yang menjadi ruh dari Ritual Ngreksa Bumi. (@Yudi S/Koresponden Wonogiri).







