IndonesiaBuzz: Ngawi 16 Mei 2026 – Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, geliat bisnis hewan kurban mulai terasa di berbagai daerah. Banyak warga memanfaatkan momen tahunan ini dengan menjadi pedagang musiman. Namun di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, seorang mantan konten kreator justru memilih menekuni bisnis sapi kurban secara serius dan berkelanjutan.
Adalah Risqi Sandita (30), warga Desa Banyu Urip, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, yang kini fokus menjalankan usaha ternak sekaligus jual beli sapi kurban. Pemuda yang akrab disapa Tompel itu perlahan meninggalkan rutinitas sebagai pembuat konten dan lebih banyak menghabiskan waktunya di kandang sapi.
Keputusan banting setir tersebut bukan tanpa alasan. Tompel melihat bisnis hewan kurban memiliki prospek menjanjikan, terutama karena permintaan selalu meningkat menjelang Idul Adha. Keseriusannya pun dibuktikan dengan mulai menekuni usaha peternakan sejak awal tahun 2026, bukan sekadar menjadi pedagang musiman.
“Awalnya memang coba-coba, tapi ternyata prospeknya bagus. Sekarang saya fokus jual beli sekaligus beternak sendiri supaya kualitas sapinya tetap terjaga,” ujarnya saat ditemui di kandang miliknya, Sabtu (16/5/26).
Tak hanya membeli sapi dari peternak lain, Tompel juga mengembangkan peternakan mandiri guna menjaga kualitas hewan yang ditawarkan kepada pelanggan. Ia mengaku sangat memperhatikan kesehatan sapi, mulai dari pakan, kebersihan kandang, hingga perawatan rutin agar seluruh hewan dalam kondisi sehat dan layak kurban.
Dua pekan menjelang Idul Adha, permintaan sapi kurban di tempatnya meningkat tajam. Pembeli datang dari berbagai kalangan, mulai masyarakat umum hingga tokoh publik.
Menurut Tompel, sejumlah sapi miliknya bahkan telah dipesan anggota DPR RI, tokoh masyarakat, hingga penyanyi.
“Untuk saat ini sapi saya memang sudah banyak yang pesan. Selain masyarakat umum, juga ada pesanan dari anggota DPR RI dan artis penyanyi,” ungkapnya.
Salah satu daya tarik di kandang miliknya adalah keberadaan sapi berbobot lebih dari satu ton yang kerap mencuri perhatian calon pembeli. Hewan berukuran jumbo itu menjadi primadona karena dinilai cocok untuk kurban skala besar maupun kebutuhan instansi.
Meski menawarkan sapi premium, Tompel memastikan harga yang dipatok tetap menyesuaikan kualitas dan berat hewan. Ia menyediakan berbagai pilihan sapi dengan harga mulai Rp20 juta hingga lebih dari Rp100 juta.
“Kalau soal harga saya pastikan masih merakyat. Kita jual mulai Rp20 juta sampai Rp100 jutaan, tergantung jenis dan berat sapinya,” jelasnya.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap sapi kurban membuat Tompel optimistis usaha yang kini ditekuninya akan terus berkembang. Ke depan, ia berencana memperluas peternakan sekaligus menjaga kepercayaan pelanggan terhadap kualitas sapi yang dijual.
Di tengah tren bisnis musiman menjelang Idul Adha, langkah Tompel menunjukkan bahwa sektor peternakan kurban bukan hanya peluang sesaat, tetapi juga bisa menjadi usaha jangka panjang yang menjanjikan apabila dikelola secara serius dan profesional. (Esaputra /Koresponden Ngawi).







