IndonesiaBuzz: Jombang 22 September 2025 – Sebuah warung tidak hanya sebagai tempat transaksi jual beli tapi juga bisa mejadi ruang untuk menjaga keakraban. Warung Kopi misalnya yang bisa memberikan fungsi ruang sebagai tempat silaturahmi antar penikmat kopi.
Semaraknya kafe modern saat ini dengan banderol harga kopi ribuan dan belasan sampai puluhan ribu. Terdapat sebuah Warung sederhana yang Bernama warung Viral di Desa Sumberagung, Kecamatan Peterongan, Jombang, menjadi sorotan karena masih menjual kopi murni dengan Harga yang jauh berbeda dari warkop lainya yaitu dijual dengan Rp 500 per gelas/cangkir.
Fenomena menjual kopi seharga Rp 500 dengan kondisi ekonomi dan perkembangan jaman saat ini tidaklah lazim adanya.
“Dulu ibu saya menjual kopi Rp300 pada tahun 1995. Sekarang hanya saya naikkan Rp200, jadi Rp500 per gelas kecil, gelas sedang harga minuman kopi menjadi Rp1.000. Kalau terlalu mahal, orang desa jadi berat. Saya ingin semua orang bisa minum kopi di sini,” ujar pemilik warung yang Bernama Sundana.
Sejak berdiri pada tahun 1992, warung warisan yang saat ini dikelola oleh Sundana dan suaminya tidak pernah sepi pengunjung. Menariknya, beberapa pelanggan datang bukan hanya dari sekitar Peterongan dan Jombang saja, tapi ada juga dari Mojokerto, Sidoarjo, bahkan Gresik.
Mereka duduk lesehan beralaskan tikar ada juga yang di kursi kayu sederhana khas pedesaan, bercakap santai sembari menyeruput kopi hitam murni. Fenomena ini sangat mencerminka budaya dan tradisi sosial yang telah mengakar di masyarakat kita.
Beberapa orang yang pertama kali datang cukup terkejut dengan Harga kopi Warkop Viral. selain menjual kopi menu yang di sediakan oleh warkop ini ada rujak petis Rp.3000 per porsi dan es cincau seharga Rp 1000. “Saya hanya bisa mendukung keputuan istri yang penting pembeli senang dan warung tetap hidup,” ujar suami Sundana.
“Kalau dihitung memang tidak masuk akal, tapi Alhamdulillah rezeki ada saja. tambahnya.
Realita keberadaan warkop Viral seakan menyampaikan sebuah pesan sosial yang mendalam, Kebiasaan yang diwariskan keluarga membentuk pola pikir dan empati kepada sesama bahwa sebuah bisnis tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan ekonomi, melainkan menekankan nilai kebersamaan, solidaritas social di dalam sebuah kemajemukan masyarakat kita. (red)



