IndonesiaBuzz: Isu Hangat – Milenial itu, ya, emang repot. Urusan karier harus gaspol, side hustle jalan terus, tapi di sisi lain, urusan domestik juga enggak bisa diabaikan. Apalagi kalau sudah berpasangan. Dulu, kita mungkin akrab dengan stereotipe “suami kerja, istri di rumah.” Klise sekali, ya. Tapi, di zaman sekarang, klise itu sudah nyaris tamat. Bukan karena tidak laku, tapi karena memang sudah tidak relevan lagi.
Generasi kita, yang akrab dengan internet sejak masa sekolah, yang nggak kaget kalau dapat kabar via media sosial, punya pandangan yang berbeda soal rumah tangga. Bukan cuma soal keuangan yang bikin kepala pusing, tapi juga soal pembagian peran gender.
Riset menunjukkan, milenial di Indonesia cenderung melihat pernikahan sebagai sebuah kemitraan yang setara. Suami bukan cuma kepala keluarga, tapi juga koki dadakan, partner mengurus anak, dan bahkan tim bersih-bersih kalau istri lagi zoom meeting. Begitu pun sebaliknya, istri kini bukan lagi cuma menteri keuangan rumah tangga, tapi juga tulang punggung ekonomi.
Dapur dan Rapat Online, Sebuah Realita Baru
Coba bayangkan, adegan di rumah tangga milenial hari ini. Istri mungkin sedang presentasi di depan layar laptop, berdiskusi soal proyek dengan klien dari luar negeri, sementara di sebelahnya, sang suami sibuk mencuci piring sambil ngomel karena noda rendang yang bandel. Ini bukan cerita fiksi, tapi potret keluarga modern yang makin lumrah.
Perempuan yang memiliki pendidikan tinggi dan peluang karier setara dengan laki-laki, kini makin banyak yang mengambil peran ganda. Mereka berkontribusi finansial, tapi di saat yang sama juga harus mengurus pekerjaan rumah tangga.
Tentu saja, ini bukan berarti hidup jadi lebih mudah. Justru tantangannya makin banyak, bahkan kadang bikin dengkul kopong. Kita harus pintar-pintar membagi waktu dan energi, antara mengejar deadline kantor dan memastikan anak tidak kelaparan. Stres, kelelahan fisik, dan tantangan mengurus diri sendiri sering kali jadi bagian dari “paket lengkap” kehidupan milenial.
Menerjang Badai Stereotipe
Perubahan ini bukan tanpa drama. Sering kali, pasangan milenial harus menghadapi tatapan bingung, atau bahkan komentar sinis dari generasi di atas mereka. “Kok bapak yang cuci popok? Istrinya ke mana?” atau “Perempuan itu tugasnya di rumah, jangan aneh-aneh!” Suara-suara ini adalah sisa-sisa budaya patriarki yang masih kuat dan kadang bikin kuping panas.
Tapi, milenial punya caranya sendiri untuk menghadapinya. Lewat media sosial, mereka berbagi cerita, tips, dan dukungan moral. Mereka membangun komunitas yang saling menguatkan, menertawakan kesulitan, dan merayakan setiap kemenangan kecil, seperti ketika berhasil merakit lemari tanpa petunjuk atau saat suami berhasil memasak hidangan yang rasanya tidak seburuk tampilannya.
Intinya, milenial sadar betul bahwa pernikahan dan keluarga adalah sebuah tim. Tidak ada kapten yang lebih superior, karena setiap pemain punya perannya masing-masing. Dan di era modern ini, peran itu bisa berubah kapan saja.
Jadi, lupakan saja stereotipe lama, karena di keluarga milenial, pembagian peran itu sudah tidak lagi kaku—mereka fleksibel, cair, dan sering kali… sedikit lebih berantakan. Tapi, ya, begitulah namanya juga hidup, kan? @jjpamungkas







