IndonesiaBuzz: Jakarta, 24 Januari 2024 – Di tengah dinamika tahun politik yang memanas, investasi dalam negeri menjadi pilihan utama untuk menggenjot realisasi investasi sepanjang tahun 2023. Data dari Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan tren positif dengan total investasi mencapai Rp 1.418,9 triliun. Capaian ini melampaui target yang ditetapkan Presiden.
Menurut data tersebut, investasi dalam negeri (Penanaman Modal Dalam Negeri/PMDN) mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 22,1 persen, mencapai Rp 674,9 triliun. Sementara, investasi asing (Penanaman Modal Asing/PMA) hanya tumbuh 13,7 persen, meskipun nominalnya lebih besar. Kondisi ini dapat dilihat sebagai respons terhadap ketidakpastian politik yang membuat investor asing lebih berhati-hati dalam menanamkan modal di Indonesia.
Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia, menyampaikan, tantangan untuk menarik investasi asing semakin berat di tengah tahun politik ini.
“Tahun politik ini tidak gampang. Di tahun politik ini minta ampun mulut kita mencoba meyakinkan orang (untuk investasi). Harus pakai berbagai macam cara,” ujar Bahlil, dalam konferensi pers, Rabu (24/1/2024).
Komposisi Investasi Menunjukkan Kekuatan PMDN
Berdasarkan data BKPM, komposisi investasi PMDN terus meningkat dari triwulan I hingga triwulan IV, mencapai 49,6 persen pada akhir tahun, sementara porsi investasi PMA terus menurun menjadi 50,4 persen. Sebagai perbandingan, pada tahun sebelumnya, investasi asing cenderung stabil dan bahkan meningkat dari triwulan ke triwulan.
Menurut Bahlil, dua faktor utama yang memperlambat pertumbuhan investasi asing adalah peningkatan baseline target investasi yang signifikan dan ketidakpastian politik yang membuat investor ragu-ragu.
”Jujur saja saya tidak bisa tutupi, memang ada sebagian investor itu wait and see. Namun, di atas itu sebenarnya masih ada kepercayaan (investor). Makanya, itu jadi tantangan bagi kami untuk tetap meyakinkan investor bahwa sekalipun di tahun politik seperti ini, kita tetap clear,” ujarnya.
Dampak Multiplier dan Tantangan Investasi Padat Karya
Meski realisasi investasi melampaui target, dampak ikutan berupa penyerapan tenaga kerja masih minim. Dari investasi triliunan yang masuk, hanya 1,8 juta lapangan kerja yang tercipta sepanjang tahun 2023.
Bahlil mengakui, penyerapan tenaga kerja masih belum sesuai dengan investasi yang masuk. Tetapi, ungkap Bahlil lebih lanjut, pemerintah berfokus untuk menarik investasi padat modal dan teknologi.
Ahmad Heri Firdaus, peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menekankan, kualitas investasi menjadi hal yang lebih penting daripada kuantitas. Pemerintah perlu memastikan investasi padat karya tidak terabaikan. Menurutnya, karena investasi padat karya memiliki peran penting dalam menjawab tantangan bonus demografi.
“Harus berjalan beriringan. Kalau kita lupa pada investasi padat karya, kita justru bisa terancam bonus demografi. Kita juga mengorbankan kualitas demi target realisasi bisa tercapai,” tutur Heri
Heri menambahkan, meskipun nilai investasi besar diapresiasi, perlu dipertanyakan kemana dampaknya dan sejauh mana investasi tersebut dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. @indonesiabuzz







