IndonesiaBuzz: Travel & Staycation – Dari atas ketinggian Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, terbentang sebuah jalur beton berliku yang seolah menembus langit. Warga menamainya Tol Kahyangan. Jalur alternatif menuju Dieng itu bukan sekadar jalan penghubung, melainkan panggung alam yang setiap sore menghadirkan pertunjukan matahari terbenam nan magis.
Saat senja tiba, langit perlahan bergradasi dari emas ke jingga. Di tikungan Sigemplong—titik tertinggi sekaligus spot favorit wisatawan—pemandangan terasa dramatis: ladang sayur menghijau di sisi kanan, jurang terjal di sisi kiri, dan di kejauhan Gunung Prau tampak siluet kehitaman. Jika beruntung, hamparan awan tipis akan menggenang di lembah, menciptakan ilusi “lautan awan” yang membuat siapa pun tertegun.
“Sunset di sini seperti bonus dari Tuhan. Kadang kita dapat senja oranye dengan pemandangan gunung, kadang malah ada awan bergulung di bawah,” kata Dian, seorang pengunjung asal Semarang.
Spot Favorit di Sigemplong
Tol Kahyangan membentang sekitar 2 kilometer dengan beton selebar 5,5 meter. Jalur ini kerap jadi rute touring motor dan mobil pribadi. Namun, titik yang paling ramai setiap sore adalah Rest Area Sigemplong. Di sini pengunjung bisa menepi dengan aman, memarkir kendaraan, lalu menikmati panorama tanpa khawatir mengganggu lalu lintas.
Di area itu, warga setempat sudah menyiapkan beberapa fasilitas sederhana, seperti warung yang menyediakan mi instan, jagung bakar, minuman hangat, hingga spot foto kekinian. Dari gardu pandang, matahari perlahan tenggelam di balik bukit, meninggalkan cahaya keemasan yang membias di permukaan awan.

Waktu Terbaik Berburu Senja
Menurut pegiat wisata lokal, periode Mei hingga Agustus adalah musim ideal untuk berburu sunset di Tol Kahyangan. Pada bulan-bulan itu langit relatif cerah, minim hujan, dan suhu dataran tinggi cukup sejuk. Sore hari sekitar pukul 16.00–17.30 menjadi waktu paling tepat untuk tiba, agar pengunjung tak hanya mendapat momen terbenamnya matahari, tetapi juga atmosfer golden hour yang hangat.
Meski begitu, pesona Tol Kahyangan tidak sepenuhnya hilang di musim hujan. Kabut tebal yang turun menjelang sore justru menghadirkan kesan mistis: jalanan tampak benar-benar melayang di atas awan. Tak sedikit pengguna media sosial mengunggah foto dan video dengan tagar #TolKahyangan, memperlihatkan keindahan yang unik dari tempat ini.
Akses dan Tantangan Jalan
Ada dua jalur utama untuk mencapai Tol Kahyangan:
- Dari Batang (Pantura): Wisatawan bisa berangkat dari Alun-Alun Bawang ke arah selatan, lalu mengikuti jalan menanjak menuju Desa Pranten. Rute ini penuh tikungan tajam dan tanjakan curam, tetapi menawarkan pemandangan kebun sayur dan hutan pinus di sepanjang perjalanan.
- Dari Dieng (Banjarnegara/Wonosobo): Dari kawasan Dieng Kulon atau Tieng, arahkan kendaraan ke jalur menuju Batang. Jalan ini kini sudah terhubung mulus dengan ruas beton Sigemplong. Banyak wisatawan yang usai menikmati sunrise di Bukit Sikunir atau Kawah Sikidang memilih melanjutkan perjalanan ke Tol Kahyangan untuk berburu sunset. Perjalanan dari pusat Dieng ke Sigemplong memakan waktu sekitar 30–40 menit dengan kondisi jalan menurun curam, sehingga pengendara harus ekstra hati-hati menggunakan gigi rendah.
“Jalan ini memang ekstrem, tapi view-nya sepadan. Karena itu kami sarankan pengunjung parkir di area yang disediakan, jangan sembarangan berhenti di tikungan,” ujar Suryono, salah seorang pengemudi Dieng Jeep Pandawa Adventure.
Senja yang Membawa Pulang Cerita
Saat langit berubah gelap dan bintang-bintang pertama mulai muncul, Tol Kahyangan perlahan kembali sepi. Namun, pengalaman menyaksikan senja di “jalan langit” Batang ini kerap membekas di benak pengunjung. Bagi sebagian orang, sunset di Sigemplong bukan sekadar panorama indah, melainkan momen refleksi di atas awan.
Bagi penikmat senja, Tol Kahyangan Batang adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan: sebuah jalan yang menghadiahkan ketenangan, ketakjuban, sekaligus cerita untuk dibawa pulang. @jjpamungkas


