IndonesiaBuzz: Cirebon, 25 Januari 2024 – Sebuah lonceng bersejarah yang diberikan oleh Thomas Stamford Raffles kepada Sultan Cirebon, kini menjadi bagian kontroversial di Keraton Kanoman. Lonceng yang terletak di atas bangunan bernama Gajah Mungkur, dulunya digunakan sebagai penanda waktu salat, namun kini menyimpan cerita unik seputar hubungan Sultan dengan pemberi hadiah tersebut.
Menurut Farihin, Pustakawan Wangsakerta Keraton Kanoman Cirebon, lonceng tersebut adalah salah satu dari tiga hadiah yang dibawa oleh Thomas Stamford Raffles ketika mengunjungi Keraton Kanoman. Selain lonceng, Raffles juga memberikan mesin jahit dan alat pemotong cerutu.
Saat Raffles menjabat sebagai Gubernur Hindia Belanda, kunjungannya ke Keraton Kanoman yang dipimpin oleh Sultan Komaruddin I atau Sultan Kanoman ke VI, meninggalkan jejak kontroversial. Lonceng yang diberikan oleh Raffles ditempatkan di atas bangunan Gajah Mungkur.
Farihin menjelaskan bahwa penempatan lonceng tersebut tidak terlepas dari ketidaksetujuan Sultan Komaruddin I terhadap Raffles, yang dianggap sebagai antek Belanda. “Gajah itu binatang, Mungkur itu belakang. Jadi ibaratnya walaupun mukanya menghadap, tapi hatinya tidak suka,” tutur Farihin.
Pemberian lonceng ini juga memiliki konteks politik dan sosial pada masanya. Sebagian masyarakat mengaitkan lonceng dengan kepentingan kolonial di wilayah Keraton Kanoman, karena lonceng diidentifikasi dengan agama Kristen.
Meskipun lonceng itu dahulu difungsikan sebagai penanda waktu salat, sejak tahun 1970 kondisinya mulai rusak dan tidak lagi digunakan untuk tujuan tersebut.
Bagi para pengunjung yang tertarik untuk menyaksikan lonceng bersejarah ini, dapat mengunjungi Keraton Kanoman yang terletak di Jalan Kanoman, Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Sebuah potongan sejarah yang masih hidup, mengingatkan kita pada peristiwa kontroversial di masa lampau.@cinde







