IndonesiaBuzz: Surakarta, 8 Oktober 2026 – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta seluruh satuan pendidikan memperketat pengawasan terhadap siswa menyusul kasus dugaan perundungan di Pemalang yang menyebabkan seorang siswa sekolah dasar meninggal dunia.
Luthfi meminta kepala sekolah dan guru meningkatkan pengawasan, terutama pada jam-jam rawan seperti waktu istirahat hingga setelah kegiatan belajar mengajar selesai.
Menurut dia, pengawasan tidak boleh berhenti hanya karena kegiatan pembelajaran di kelas telah berakhir. Sekolah perlu memastikan keberadaan dan keamanan siswa selama masih berada di lingkungan satuan pendidikan.
“Teman-teman di lapangan untuk selalu peduli di sekolah masing-masing. Misal di saat jam istirahat dipantau, kalau tidak ada CCTV ya memantau langsung. Pulang sekolah juga dipantau,” kata Luthfi, Kamis (8/10/26).
Sekolah Diminta Siapkan Piket dan CCTV
Luthfi menekankan pentingnya sistem piket bagi guru maupun tenaga pendidik. Menurut dia, jangan sampai siswa masih berada di lingkungan sekolah sementara para guru telah meninggalkan sekolah.
“Jangan sampai anak masih ada di sekolah tapi guru sudah pulang. Tetap tunggu sampai anak-anak di sekolah habis, perlu ada piket, supaya anak tetap dipantau di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Selain pengawasan langsung, Luthfi mendorong pemasangan kamera pengawas atau CCTV di sejumlah titik yang dinilai rawan.
Pengawasan tersebut diharapkan dapat membantu sekolah mendeteksi sekaligus mencegah terjadinya tindakan kekerasan dan perundungan antarsiswa.
Luthfi juga meminta seluruh satuan pendidikan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak.
“Kami tetap ingatkan teman-teman di satuan pendidikan untuk selalu meningkatkan kewaspadaan. Jadi harapannya kita zero bullying,” katanya.
Menurut dia, lingkungan pendidikan yang aman dan menyenangkan akan membantu siswa berkembang sekaligus mendorong munculnya berbagai prestasi.
Pemprov Siapkan Dukungan Pendidikan Keluarga Korban
Di sisi lain, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Tengah telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah terkait keberlanjutan pendidikan anggota keluarga korban yang masih bersekolah.
Pemerintah daerah juga tengah memastikan kondisi sosial dan ekonomi keluarga korban. Berdasarkan informasi yang disampaikan, keluarga korban masuk dalam kelompok desil satu atau kelompok masyarakat kurang mampu.
Atas kondisi tersebut, Pemprov Jawa Tengah mengupayakan dukungan pendidikan berupa beasiswa bagi anak-anak dalam keluarga korban.
Langkah tersebut menjadi bagian dari penanganan dampak kasus sekaligus upaya memastikan persoalan ekonomi tidak menghambat keberlanjutan pendidikan anggota keluarga korban.
Selain bantuan pendidikan, Pemprov Jateng juga mendorong penguatan upaya pencegahan perundungan di lingkungan sekolah.
Siswa SD di Pemalang Meninggal Setelah Dirawat
Kasus dugaan perundungan tersebut menimpa seorang siswa kelas II SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, berinisial A (7).
Korban diduga menjadi korban perundungan oleh kakak kelasnya. Setelah mengalami kondisi kesehatan yang memburuk, korban sempat menjalani perawatan di RSUD dr M Ashari Pemalang sejak 17 September 2026.
Korban kemudian dilaporkan meninggal dunia pada 30 Oktober 2026.
Kasus tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena menyangkut perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Pemerintah mendorong sekolah tidak hanya merespons ketika terjadi peristiwa, tetapi memperkuat sistem pencegahan dan pengawasan sejak awal.
Melalui pengawasan guru, sistem piket, pemanfaatan CCTV, serta penciptaan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, Pemprov Jawa Tengah menargetkan tidak ada lagi kasus perundungan di lingkungan satuan pendidikan. @yudi







