IndonesiaBuzz: Wonogiri, 11 Oktober 2026 – Menyusutnya debit air Waduk Gajah Mungkur (WGM), Wonogiri, Jawa Tengah, akibat musim kemarau membuka kembali jalur alternatif yang menghubungkan Kecamatan Baturetno dan Kecamatan Eromoko. Warga setempat memanfaatkan kondisi tersebut dengan membangun jembatan sesek berbahan bambu yang mampu memangkas jarak perjalanan hingga sekitar 20 kilometer.
Jembatan sederhana yang dibangun secara swadaya itu menghubungkan Desa Glesungrejo, Kecamatan Baturetno, dengan Desa Tegalharjo, Kecamatan Eromoko. Jalur tersebut melintasi bagian dasar waduk yang mengering dan kini mulai dimanfaatkan pengendara sepeda motor.
Kepala Desa Glesungrejo, Andi Wirawan, mengatakan jembatan sesek tersebut sudah dapat dilalui warga selama kurang lebih dua pekan terakhir.
“Sudah sekira dua pekan ini jembatan sesek bisa dilalui,” ujar Andi, Minggu (11/10/26).
Jembatan Bambu Jadi Jalur Alternatif Warga
Jembatan sesek tersebut dibangun menggunakan bambu melalui inisiatif dan swadaya masyarakat setempat. Kehadirannya menjadi alternatif bagi warga yang hendak bepergian antara wilayah Baturetno dan Eromoko tanpa harus menempuh jalur memutar.
Menurut Andi, pengendara yang melintasi jalur darat biasanya harus melewati Kecamatan Giriwoyo untuk menuju Eromoko dari Baturetno. Dengan adanya jembatan sesek, perjalanan menjadi lebih singkat.
Jembatan itu membentang di atas aliran sungai kecil di dasar Waduk Gajah Mungkur yang airnya menyusut selama musim kemarau.
Meski demikian, ukuran jembatan yang relatif sempit membuat jalur tersebut hanya diperuntukkan bagi sepeda motor. Pengendara perlu berhati-hati saat melintas, mengingat konstruksinya menggunakan material bambu.
Pangkas Jarak hingga 20 Kilometer, Tarif Sukarela
Keberadaan jembatan sesek memberikan keuntungan bagi masyarakat karena dapat menghemat waktu dan jarak perjalanan. Andi menyebut jalur tersebut mampu memangkas jarak tempuh sekitar 20 kilometer dibandingkan rute darat yang harus memutar melalui Kecamatan Giriwoyo.
“Bisa memangkas jarak sekitar 20 kilometer. Lebih dekat dan lebih cepat,” kata Andi.
Untuk melintasi jembatan, warga menerapkan tarif sukarela bagi pengendara. Meski tidak ada tarif tetap, kontribusi yang diberikan pengendara rata-rata sekitar Rp2.000 untuk setiap sepeda motor.
“Rata-rata Rp 2 ribu. Untuk sepeda motor saja. Tidak begitu lebar soalnya,” bebernya.
Skema pembayaran sukarela tersebut menjadi bagian dari pemanfaatan jembatan yang dibangun dan dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat.
Jalur Hanya Bisa Digunakan Saat Air Waduk Surut
Andi menjelaskan, jalur alternatif tersebut bergantung pada kondisi air Waduk Gajah Mungkur. Ketika musim penghujan tiba dan debit air meningkat, jalur di dasar waduk akan kembali tergenang sehingga jembatan sesek tidak dapat digunakan.
Karena itu, kemunculan jalur tersebut bersifat musiman, mengikuti perubahan kondisi waduk sepanjang tahun.
Menyusutnya debit air waduk saat kemarau membuka peluang bagi warga untuk memanfaatkan kawasan yang biasanya tergenang sebagai jalur penghubung antarkecamatan. Namun, kondisi tersebut sekaligus menuntut perhatian terhadap keselamatan pengguna jalan, terutama karena jembatan dibuat dari bambu dan berada di kawasan dasar waduk.
Bagi masyarakat Desa Glesungrejo dan Desa Tegalharjo, jembatan sesek menjadi solusi praktis untuk memperpendek perjalanan selama kondisi air memungkinkan. Jalur tersebut pun menunjukkan bagaimana inisiatif warga memanfaatkan kondisi lingkungan untuk membantu mobilitas sehari-hari. (@Yudi S/Koresponden Wonogiri)







