IndonesiaBuzz: Wonogiri, 25 Oktober 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman cuaca ekstrem, gempa bumi, dan tsunami melalui kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) dan Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) di Kabupaten Wonogiri, Sabtu (24/10/26).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Khayangan, Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Wonogiri, tersebut diselenggarakan oleh Stasiun Geofisika Kelas I Sleman bersama Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Emas. Program ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan pemerintah daerah mengenai informasi cuaca, mitigasi bencana, serta langkah penyelamatan diri ketika menghadapi situasi darurat.
Mengusung tema “Manunggal Sedya Wonogiri Tangguh dan Sejahtera: Melalui SLCN dan SLG, Pahami Laut serta Kesiapsiagaan Gempa Bumi dan Tsunami”, kegiatan tersebut mempertemukan unsur pemerintah daerah, lembaga kebencanaan, tenaga pendidikan, relawan, insan pers, hingga kelompok nelayan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan karakteristik geografis Wonogiri membutuhkan pemahaman yang baik terhadap informasi cuaca dan potensi bencana. Selain memiliki wilayah pesisir di selatan Pulau Jawa, Wonogiri juga mempunyai kawasan perairan Waduk Gajah Mungkur yang dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas masyarakat.
Menurut Faisal, informasi cuaca maritim harus menjadi pertimbangan penting bagi nelayan sebelum melaut, terutama dalam menentukan waktu keberangkatan dan mengantisipasi perubahan kondisi cuaca.
“Informasi cuaca maritim harus menjadi pertimbangan utama dalam aktivitas harian nelayan. Kapan waktu yang aman untuk berangkat, kapan harus menunda, dan bagaimana mengantisipasi cuaca buruk,” kata Faisal.
Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat pesisir selatan perlu memahami potensi ancaman gempa bumi dan tsunami. Karena itu, pelatihan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan teoritis, tetapi harus membekali peserta dengan keterampilan praktis untuk mengambil keputusan cepat dan melakukan evakuasi secara mandiri.
“Ukuran keberhasilan sekolah lapang ini adalah kemampuan praktis peserta dalam melindungi diri, mengambil keputusan secara cepat saat cuaca ekstrem, serta melakukan evakuasi mandiri dengan tepat saat terjadi gempa bumi kuat,” ujarnya.
Penguatan Literasi Kebencanaan Jadi Investasi Jangka Panjang
Dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut disampaikan Anggota Komisi V DPR RI, Sriyanto Saputro. Ia menilai penguatan kapasitas masyarakat dalam memahami informasi cuaca dan kebencanaan merupakan bagian penting dari pembangunan nasional, selain penyediaan infrastruktur fisik.
Menurut Sriyanto, akses terhadap informasi yang mudah dipahami dapat membantu masyarakat dan nelayan mengambil keputusan yang lebih aman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Kegiatan edukasi ini merupakan investasi jangka panjang untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat. Dengan bekal informasi cuaca dan gempa bumi yang mudah diakses dan dipahami, masyarakat dan nelayan kita dapat beraktivitas dengan lebih aman, tenang, dan produktif,” ujar Sriyanto.
Ia menambahkan, Komisi V DPR RI terus mendukung penguatan layanan informasi BMKG agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, khususnya mereka yang tinggal dan beraktivitas di wilayah dengan risiko bencana.
Sementara itu, Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, menyambut baik penyelenggaraan SLCN dan SLG sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan daerah. Ia menekankan pentingnya membangun jejaring komunikasi yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.
Setyo berharap peserta yang mengikuti pelatihan dapat meneruskan pengetahuan serta keterampilan yang diperoleh kepada keluarga dan komunitas masing-masing.
“Kami berharap peserta yang hadir hari ini dapat saling gethok tular, menularkan ilmu, keterampilan, dan kesiapsiagaan yang didapat kepada keluarga maupun komunitas di lingkungannya masing-masing,” tutur Setyo.

Diikuti Puluhan Peserta dari Berbagai Unsur
Dalam pelaksanaannya, Sekolah Lapang Gempa Bumi diikuti 53 peserta yang berasal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pendidikan, perwakilan sekolah, relawan, serta insan pers.
Adapun Sekolah Lapang Cuaca Nelayan diikuti 34 peserta, terdiri atas penyuluh perikanan, perwakilan dinas teknis, kelompok nelayan, dan nelayan tradisional.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan dapat memperluas penyebaran informasi kebencanaan sekaligus memperkuat koordinasi ketika terjadi kondisi darurat, baik di wilayah pesisir maupun kawasan lain di Kabupaten Wonogiri.
Melalui pelaksanaan SLCN dan SLG 2026, BMKG mendorong agar informasi cuaca, gempa bumi, dan tsunami tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diterapkan dalam tindakan nyata untuk melindungi keselamatan masyarakat.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar selalu mengakses informasi melalui kanal komunikasi resmi BMKG dan tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
Penguatan literasi cuaca dan kebencanaan diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun masyarakat Wonogiri yang lebih tangguh, tanggap, dan siap menghadapi risiko bencana. (@yudi S/Koresponden Wonogiri)







