IndonesiaBuzz: Jakarta, 4 September 2026 – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tiga provinsi prioritas di Kalimantan. Kabut asap pekat yang menyelimuti sejumlah kawasan, terutama lahan gambut, menjadi tantangan serius bagi petugas dalam menemukan sumber api sekaligus menghambat operasi pemadaman dari udara.
Untuk mengatasi kendala tersebut, BNPB mengerahkan teknologi drone thermal yang mampu mendeteksi panas dari titik api yang berada di bawah permukaan tanah. Teknologi ini dinilai penting untuk menangani kebakaran lahan gambut yang kerap menyisakan bara di dalam tanah meski api di permukaan telah dipadamkan.
“Pencarian titik sumber api saat ini ada di dalam tanah dengan menggunakan drone thermal yang bisa menemukan titik-titik api di bawah permukaan yang tidak terlihat,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kapusdatinkom BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Teknologi pendeteksi panas tersebut digunakan satuan tugas di Kalimantan Selatan. Upaya penanganan juga dikombinasikan dengan injeksi cairan surfaktan untuk membasahi lahan gambut dari dalam. Langkah itu dilakukan untuk membantu proses pendinginan sekaligus mengantisipasi bara api yang masih bertahan di bawah permukaan.
Dari tiga provinsi prioritas, kondisi paling parah dilaporkan terjadi di Kalimantan Barat. BNPB mencatat sedikitnya 61 titik api ditemukan di wilayah tersebut. Kebakaran menyebabkan jarak pandang turun hingga kurang dari satu kilometer dan kualitas udara berada dalam kategori berbahaya.
“Perhatian kami terhadap Kalimantan Barat sangat besar akibat memang lahan gambut yang tebal yang terbakar, sehingga membutuhkan penanganan dan pengawasan yang lebih lama, termasuk pendinginan,” kata Berton.
Kondisi lahan gambut yang terbakar juga membuat proses pemadaman tidak dapat dilakukan secara cepat. Api yang merambat hingga lapisan bawah tanah membutuhkan penanganan berulang dan proses pendinginan lebih lama untuk memastikan tidak kembali menyala.
Kabut asap tebal yang dihasilkan karhutla turut berdampak terhadap keselamatan masyarakat dan aktivitas penanganan bencana. Selain mengancam kesehatan warga, jarak pandang yang rendah membuat pergerakan armada pemadam kebakaran menjadi lebih sulit.
Gangguan serupa terjadi dalam operasi pemadaman melalui udara di Kalimantan Tengah. BNPB terpaksa menghentikan sementara operasi pengeboman air atau water bombing karena kondisi atmosfer dan kabut asap tidak memungkinkan pilot memperoleh jarak pandang visual yang aman.
“Khusus Kalimantan Tengah, kemarin kami tidak bisa melakukan karena memang situasi dan kondisi di lapangan yang kurang memungkinkan. Jarak pandang yang rendah membuat operasi udara terbatas dilaksanakan,” ungkap Berton.
Penghentian sementara operasi udara tersebut menunjukkan bahwa kabut asap bukan hanya dampak dari karhutla, tetapi juga menjadi faktor yang memperumit proses penanganan. Di tengah kondisi tersebut, BNPB terus mengandalkan kombinasi teknologi pemantauan, operasi darat, pendinginan, dan intervensi dari udara sesuai kondisi di lapangan.
Penanganan karhutla di Kalimantan pun tidak berhenti pada pemadaman api yang terlihat di permukaan. Deteksi titik panas di bawah tanah, terutama pada lahan gambut, menjadi bagian penting untuk memastikan kebakaran benar-benar terkendali dan tidak kembali berkembang menjadi titik api baru. @yudi







