IndonesiaBuzz: Bojonegoro, 3 September 2026 – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Bojonegoro mencatat 338 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Angka tersebut melonjak tajam memasuki puncak musim kemarau, dengan Juli dan Agustus menjadi periode paling banyak terjadi kebakaran.
Berdasarkan data Damkarmat Bojonegoro, peningkatan signifikan mulai terlihat pada Juli dengan 125 kejadian. Angka tersebut kemudian sedikit menurun pada Agustus menjadi 112 kejadian, namun masih jauh lebih tinggi dibandingkan Juni yang hanya mencatat 29 kejadian.
Kebakaran yang terjadi didominasi kasus pada lahan, pekarangan, sampah, jerami, hingga rumpun bambu dengan total 164 kejadian. Berikutnya, kebakaran rumah atau permukiman tercatat 33 kasus, kebakaran lahan hutan sebanyak 30 kasus, serta gangguan instalasi listrik sebanyak 29 kasus.
Kabid Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Damkarmat Bojonegoro Ahmad Agus Salim mengatakan musim kemarau menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kebakaran. Kondisi vegetasi dan lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar.
“Ketika memasuki musim kemarau, potensi kebakaran memang meningkat. Pembakaran sampah ini menjadi salah satu pemicu paling banyak,” kata Agus, Rabu (2/9/26).
Dari keseluruhan 338 kejadian, pembakaran sampah tercatat sebagai penyebab terbanyak dengan 153 kasus. Faktor berikutnya adalah korsleting listrik sebanyak 67 kasus dan dugaan unsur kesengajaan sebanyak 59 kasus.
Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar kebakaran masih berkaitan dengan aktivitas manusia. Api yang awalnya digunakan untuk membakar sampah berpotensi tidak terkendali ketika dilakukan di tengah kondisi lingkungan yang kering.
Dampak kebakaran juga tidak kecil. Akumulasi kerugian material sepanjang Januari hingga Agustus 2026 diperkirakan mencapai Rp14,43 miliar.
Di sisi lain, respons cepat petugas Damkarmat mampu menyelamatkan aset masyarakat dengan nilai yang jauh lebih besar, yakni diperkirakan mencapai Rp129,98 miliar.
Agus mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh sumber api sekecil apa pun, terutama selama musim kemarau.
Aktivitas membakar sampah, kata dia, sebaiknya dihindari atau dilakukan dengan pengawasan dan langkah pengamanan yang memadai. Kondisi vegetasi yang kering dapat membuat api dengan cepat menjalar ke area yang lebih luas.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi korsleting listrik dan segera melaporkan apabila melihat kebakaran atau sumber api yang berpotensi membahayakan lingkungan.
Damkarmat Bojonegoro menilai kewaspadaan dan pencegahan dari masyarakat menjadi kunci untuk menekan peningkatan kasus kebakaran selama musim kemarau. Upaya tersebut diperlukan agar lonjakan kejadian kebakaran tidak kembali terjadi pada bulan-bulan berikutnya. (M.Tohir /Koresponden Bojonegoro).







