IndonesiaBuzz: Jakarta, 18 Juni 2026 – Pemerintah menargetkan jumlah peserta didik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia mencapai lebih dari 400 ribu siswa pada 2029. Target tersebut menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin, miskin ekstrem, dan kelompok rentan yang berisiko putus sekolah.
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengatakan jumlah peserta didik Sekolah Rakyat akan terus bertambah secara bertahap seiring dengan perluasan pembangunan dan pengembangan fasilitas pendidikan di berbagai daerah.
“Tahun ini siswa Sekolah Rakyat sudah lebih dari 45.000 seluruh Indonesia jenjang SD, SMP dan SMA. Tahun depan bertambah lagi 60.000 jadi lebih dari 100.000. Insyaallah tahun 2027 dan 2028 sudah mendekati 300.000, dan pada 2029 sudah di atas 400.000 siswa,” ujar Saifullah Yusuf di Jakarta, Kamis (18/6/26).
Pernyataan tersebut disampaikan saat acara penyerahan lahan seluas 6,3 hektare milik Kementerian Hukum kepada Kementerian Sosial yang akan digunakan untuk pembangunan Sekolah Rakyat.
Saifullah menegaskan, Program Sekolah Rakyat tidak hanya dirancang sebagai sarana pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Menurutnya, perluasan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan sumber daya manusia yang lebih kompetitif dan mandiri.
Pemerintah menilai pendidikan menjadi salah satu instrumen paling efektif dalam meningkatkan mobilitas sosial sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat miskin.
Karena itu, pengembangan Sekolah Rakyat dilakukan secara terintegrasi dengan berbagai program perlindungan sosial dan pemberdayaan keluarga.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, proses penerimaan peserta didik Sekolah Rakyat tidak dilakukan melalui mekanisme pendaftaran terbuka.
Saifullah menjelaskan bahwa pemerintah menggunakan pendekatan penjangkauan langsung kepada keluarga sasaran yang telah teridentifikasi dalam basis data kesejahteraan sosial.
“Jadi Sekolah Rakyat tidak ada pendaftaran, yang ada adalah penjangkauan,” katanya.
Pendekatan tersebut bertujuan memastikan program benar-benar menyasar anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan dan berpotensi mengalami putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi.
Melalui metode ini, pemerintah dapat menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini sulit mengakses layanan pendidikan formal secara optimal.
Program Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pendidikan siswa, tetapi juga menyasar peningkatan kesejahteraan keluarga secara menyeluruh.
Mensos menjelaskan bahwa keluarga penerima manfaat akan mendapatkan berbagai bentuk intervensi sosial, mulai dari bantuan sosial, peningkatan kualitas hunian, hingga jaminan kesehatan melalui Program Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan.
“Anaknya sekolah, orang tuanya diberdayakan, dibantu rumahnya supaya lebih layak huni, dicukupi dengan bansos lengkap, dan seluruh keluarganya mendapatkan PBI sebagai penerima manfaat bantuan iuran BPJS Kesehatan,” ujarnya.
Pendekatan multidimensi tersebut dinilai penting karena kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan pendapatan, tetapi juga menyangkut akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kualitas tempat tinggal.
Pemerintah berharap lulusan Sekolah Rakyat tidak hanya menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, tetapi juga memiliki kesempatan melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau memasuki dunia kerja dengan keterampilan yang memadai.
Menurut Saifullah, tujuan utama program ini adalah menciptakan generasi yang mampu meningkatkan taraf hidup keluarganya sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bantuan sosial di masa depan.
Dengan target lebih dari 400 ribu siswa pada 2029, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi salah satu program unggulan pemerintah dalam memperluas pemerataan pendidikan dan mempercepat upaya pengentasan kemiskinan nasional.
Program tersebut sekaligus menjadi langkah konkret negara dalam memastikan bahwa anak-anak dari keluarga miskin memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas dan membangun masa depan yang lebih baik. @yudi





