IndonesiaBuzz: Wonogiri, 29 Juni 2025 – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri menyiapkan anggaran sebesar Rp700 juta lebih untuk menghadapi potensi bencana kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Anggaran tersebut dialokasikan dalam Perubahan APBD 2025 sebagai upaya penanganan kekurangan air bersih secara temporal di sejumlah wilayah rawan kekeringan.
Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, menyatakan kekeringan masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. “Anggaran itu kami siapkan untuk mengantisipasi jika kekeringan terjadi. Dana ini salah satunya untuk mendukung distribusi air bersih ke daerah terdampak,” ujarnya saat ditemui di Pringgodani Sport Tourism Center Wonogiri, Minggu (29/6/2025).
Dengan anggaran tersebut, Pemkab menargetkan dapat menyalurkan lebih dari 2.500 tangki air bersih ke warga di wilayah-wilayah rawan kekeringan.
Selain penanganan jangka pendek, Setyo menyebut Pemkab Wonogiri juga terus memperluas cakupan layanan air bersih secara permanen melalui PDAM. “Misalnya di Kecamatan Paranggupito, sudah lebih dari 90 persen rumah tersambung jaringan air bersih,” jelasnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri mencatat, masih terdapat 44 desa di 14 kecamatan yang rawan kekeringan air baku. Wilayah tersebut antara lain Kecamatan Eromoko, Manyaran, Giritontro, Giriwoyo, Nguntoronadi, Pracimantoro, Paranggupito, Tirtomoyo, Baturetno, Wuryantoro, Jatiroto, Karangtengah, Wonogiri, dan Selogiri.
Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, menambahkan bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung enam bulan, mulai Juni hingga November 2025. BPBD bersama lintas sektor telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk membentuk posko darurat siaga kekeringan dan mengaktifkan relawan Desa Tanggap Bencana (Destana) di seluruh desa.
“Relawan Destana akan menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana kekeringan di daerah masing-masing,” kata Fuad.
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Wonogiri, Sri Maryati, menjelaskan bahwa saat ini wilayah Jawa Tengah termasuk Wonogiri sedang dalam masa peralihan atau pancaroba dari musim hujan ke kemarau. “Fenomena ini ditandai dengan hujan deras disertai angin kencang akibat gangguan atmosfer dan labilnya massa udara di wilayah Soloraya,” jelasnya.





