IndonesiaBuzz: Jakarta, 11 Januari 2024 – Masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia menjadi kelompok paling rentan terdampak oleh perubahan iklim. Kepala Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nawawi, menyampaikan bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga sangat relevan dengan isu kependudukan, di mana banyak penduduk terpaksa harus pindah dari daratan mereka akibat naiknya permukaan air laut.
Contoh nyata dari dampak perubahan iklim terlihat di beberapa desa di Pekalongan, Jawa Tengah, yang mengalami kerugian signifikan karena peningkatan muka air laut. Nawawi menegaskan bahwa perubahan iklim memengaruhi kualitas kesehatan, kualitas hidup, derajat hidup, bahkan masa depan masyarakat pesisir.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menetapkan perubahan iklim sebagai salah satu isu strategis dalam proyek riset dan inovasi, mengingat Indonesia sebagai negara maritim dengan pulau-pulau yang banyak dan mayoritas penduduknya bermukim di kawasan pesisir.
Zulfirman Rahyantel, Mahasiswa PhD dari Departemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Cornell, menyatakan bahwa krisis iklim adalah masalah kompleks yang menimbulkan ketidakadilan sosial. Menurutnya, kelompok masyarakat yang berkontribusi pada krisis iklim adalah yang paling rentan dan merasakan dampak paling besar.
Zulfirman menyoroti kurangnya perhatian terhadap isu perubahan iklim yang berkaitan dengan masyarakat pulau-pulau kecil dan pesisir dalam forum-forum global seperti COP28. Ia mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sangat bergantung pada sumber daya alam, menjadikannya kelompok paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Dengan demikian, diperlukan perhatian serius dan langkah-langkah konkret untuk melibatkan masyarakat pesisir dalam perencanaan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim guna menciptakan solusi yang adil dan berkelanjutan. @cinde





