IndonesiaBuzz: Historia – Setiap 21 September, dunia memperingati Hari Perdamaian Dunia atau International Day of Peace. Hari khusus ini ditetapkan oleh PBB sejak tahun 1981 agar perdamaian menjadi komitmen global.
Pada 30 November 1981, Majelis Umum PBB (UNGA) mengadopsi resolusi yang menyatakan bahwa hari pembukaan sidang umum tahunan akan didedikasikan untuk memperkuat cita-cita perdamaian.
Dua puluh tahun kemudian, pada 2001, UNGA kembali menetapkan 21 September sebagai momen tahunan tanpa kekerasan dan gencatan senjata secara global.
- 1981 – Penetapan Hari Perdamaian. UNGA memprakarsai Hari Perdamaian Internasional pertama kali pada tahun 1981, dengan tujuan memperkuat “cita-cita perdamaian” dalam sidang umum tahunan PBB.
- 2001 – Seruan Gencatan Senjata. Pada 2001, UNGA secara bulat menetapkan 21 September sebagai hari perdamaian tahunan dengan fokus pengamatan 24 jam tanpa kekerasan dan gencatan senjata. Resolusi tersebut mengajak semua pihak dunia untuk menghentikan kekerasan selama sehari penuh sebagai simbolik penghormatan terhadap perdamaian.
Tujuan dan Makna
Peringatan Hari Perdamaian Dunia bertujuan mendorong penghentian kekerasan dan memupuk perdamaian secara global. Majelis Umum PBB secara tegas menyatakan bahwa tanggal 21 September adalah hari yang “dikhususkan untuk memperkuat cita-cita perdamaian, dengan cara mengamati 24 jam tanpa kekerasan dan gencatan senjata”.
Hari ini menjadi momen bagi umat manusia “mengutamakan perdamaian di atas perbedaan apa pun” dan berkontribusi membangun budaya damai. Lewat seruan PBB, warga dunia diajak bekerjasama mewujudkan gencatan senjata dan non-kekerasan secara menyeluruh.
Dengan semangat itulah Hari Perdamaian Internasional setiap tahun menyuarakan harapan agar konflik dihentikan dan pembangunan berkelanjutan yang adil terus didukung, karena “pembangunan berkelanjutan mendukung perdamaian”.
Peringatan Internasional
Hari Perdamaian Dunia diperingati dengan berbagai kegiatan simbolis dan edukatif di seluruh dunia. Di Markas Besar PBB di New York misalnya, Lonceng Perdamaian (Peace Bell) dibunyikan pada 21 September sebagai pengingat kolektif akan harga perdamaian.
Seremoni Peace Bell ini merupakan tradisi sejak lama: lonceng dari donasi Persatuan PBB di Jepang itu digetarkan setiap ekuinoks musim semi dan sekali lagi tepat pada Hari Perdamaian.
Selain itu, masyarakat di banyak negara menggelar aksi solidaritas dan damai di berbagai bidang. Sekolah, komunitas, dan organisasi kemasyarakatan mengadakan seminar, konser perdamaian, kampanye lisan-visual, bahkan pelepasan burung merpati sebagai lambang kedamaian.
Sebagai contoh, di Sudan Selatan, Hari Perdamaian Internasional diisi dengan diskusi panel yang menekankan pentingnya penyelesaian konflik dan penghormatan HAM, “seruan tegas bagi mitra perdamaian agar menghentikan konflik dan mempromosikan hak asasi manusia”.
Secara umum, Peringatan Hari Perdamaian Internasional selalu dirayakan tiap 21 September dengan kegiatan-kegiatan solidaritas di bidang pendidikan, seni, olahraga, kesehatan, lingkungan dan lainnya. Semua rangkaian perayaan ini dimaksudkan untuk memperkuat komitmen kolektif bahwa dunia membutuhkan lebih banyak perdamaian.
Pesan Tokoh Dunia
Sejumlah pemimpin dunia kerap menyampaikan pesan penting dalam Momentum ini. Sekretaris-Jenderal PBB António Guterres, misalnya, mengingatkan urgensi perdamaian dengan tegas: “Di mana ada damai, di situ ada harapan… Perdamaian tidak dapat ditunda lagi, tugas kita dimulai sekarang”.
Pernyataan António Guterres di atas menggarisbawahi bahwa saat konflik mengancam berbagai belahan dunia, setiap individu dan negara bertanggung jawab segera bertindak demi meraih perdamaian. Seruan Guterres senada dengan pesan PBB yang selama ini menekankan bahwa perdamaian adalah hak semua umat manusia dan memerlukan kerja sama lintas-batas.
Secara keseluruhan, Hari Perdamaian Dunia yang ditetapkan PBB sejak 1981 tersebut menjadi momen refleksi dan aksi. Peringatan ini tidak hanya mengenang sejarah penetapannya, tetapi terutama mendorong semua lapisan masyarakat untuk menyuarakan penghentian kekerasan dan memperkuat nilai-nilai perdamaian global.
“Perdamaian sangat dibutuhkan hari ini daripada sebelumnya,” kata Guterres, mengajak dunia mewujudkan harapan tadi menjadi kenyataan. @indonesiabuzz







