IndonesiaBuzz: Wonogiri, 7 Oktober 2026 – Lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) didorong tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja. Mereka perlu memiliki kemampuan membaca peluang dan mengubah kompetensi yang dipelajari di sekolah menjadi modal untuk membangun usaha.
Pesan tersebut disampaikan praktisi sekaligus owner PT Agaso Internasional Teknologi Wonogiri, Aga Rohima Nusantara, saat memberikan pelatihan pembuatan dan pemasaran bakso kepada siswa SMKN 1 Bulukerto, Wonogiri, Rabu (7/10/26).
Pelatihan yang digelar bersama Komunitas Bakso Wonogiri Mendunia itu tidak sekadar mengajarkan teknik membuat produk makanan. Para siswa juga diajak memahami bagaimana melihat kebutuhan pasar dan mengembangkan keterampilan menjadi peluang bisnis.
Dunia Kerja Berubah, Siswa Harus Mampu Membaca Peluang
Aga mengatakan perubahan kondisi dunia kerja menuntut lulusan SMK memiliki cara pandang yang lebih luas terhadap masa depan. Menurut dia, bekerja sebagai karyawan bukan satu-satunya pilihan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Saat ini kondisi dunia kerja berbeda dengan dulu. Jadi, harus bisa membaca peluang untuk berwirausaha,” ujar Aga.
Dia menilai setiap orang memiliki peluang yang dapat dikembangkan, termasuk dari keterampilan yang sudah dimiliki. Karena itu, siswa tidak harus menunggu sampai mempunyai jaringan luas, kemampuan sempurna, atau modal besar untuk mulai berwirausaha.
“Kalau hanya memiliki alasan tidak memulai karena tidak punya koneksi, skill dan lainnya, maka alasan akan selalu ada. Jadi dimanfaatkan dan dioptimalkan dulu yang sudah dimiliki saat ini,” tuturnya.
Menurut Aga, pola pikir tersebut penting ditanamkan sejak bangku sekolah. Dengan begitu, siswa tidak hanya mempersiapkan diri untuk memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga mampu melihat persoalan di sekitar sebagai peluang untuk menciptakan produk atau jasa.
Kompetensi Sekolah Bisa Menjadi Modal Bisnis
Aga mencontohkan kompetensi keahlian yang dipelajari siswa SMK dapat dikembangkan menjadi peluang usaha. Kemampuan teknik, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk menciptakan peralatan yang dibutuhkan pelaku usaha.
Dia mencontohkan kebutuhan pelaku usaha bakso terhadap mesin produksi. Kebutuhan tersebut dapat menjadi peluang bagi siswa yang memiliki kompetensi di bidang teknik untuk mengembangkan solusi berupa mesin atau peralatan produksi.
Pengalaman tersebut juga dijalani Aga melalui pengembangan mesin produksi bakso. Produk yang dikembangkannya kini telah dipasarkan ke lima negara.
Menurut dia, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterampilan teknis yang diperoleh melalui pendidikan vokasi memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
“Jadi, jangan melihat skill hanya untuk mencari pekerjaan. Skill yang dimiliki juga bisa digunakan untuk menciptakan solusi dan peluang usaha,” katanya.
Siswa Belajar Produksi hingga Strategi Pemasaran
Kepala SMKN 1 Bulukerto Tris Susilowati mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari pembekalan kewirausahaan bagi siswa.
Menurut dia, pembelajaran kewirausahaan perlu diberikan secara praktis agar siswa memperoleh gambaran mengenai proses membangun sebuah usaha. Karena itu, siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses produksi.
“Pelatihan tidak hanya berfokus pada cara membuat bakso, tetapi juga memperkenalkan bagaimana melihat peluang bisnis, proses produksi, peralatan usaha, serta strategi pemasaran,” kata Tris.
Dalam kegiatan tersebut, siswa mempraktikkan langsung pembuatan bakso bersama pelaku usaha yang tergabung dalam Komunitas Bakso Wonogiri Mendunia.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah berupaya memperluas wawasan siswa mengenai pilihan setelah lulus. Bekal keterampilan yang diperoleh di sekolah diharapkan tidak berhenti sebagai kemampuan untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi dasar untuk menciptakan usaha dan membuka peluang ekonomi.




