IndonesiaBuzz: Kuliner – Sebuah warung sederhana di Dusun Jeruk, Desa Srabah, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, tetap eksis hingga kini. Warung milik Tumirah (85) yang akrab di panggil Mbah Tumirah itu sudah berdiri lintas generasi sejak 1940 dan masih setia menjajakan nasi gegok legendaris.
Warung yang berdiri di lereng perbukitan ini sudah ada sejak orang tua Tumirah mulai berjualan gegok puluhan tahun silam. Setelah sang ibu wafat, usaha itu dilanjutkan oleh Tumirah. Kini, tongkat estafet berjualan gegok diteruskan anak perempuannya.
Menu yang ditawarkan pun sederhana tapi bikin nagih. Nasi pulen dibungkus daun pisang, lengkap dengan sambal teri atau tuna pedas yang khas. Harganya sangat ramah di kantong, hanya Rp3.500-Rp5.000 per bungkus.

Lokasi warung berjarak sekitar 8 km dari pusat Kota Trenggalek. Perjalanan bisa ditempuh dengan motor maupun mobil, meski jalannya cukup menantang. Kondisi jalan terjal dan rusak karena sering dilalui truk proyek Bendungan Bagong yang sampai saat ini belum rampung. Meski begitu, perjalanan akan terbayar dengan pemandangan hutan pinus dan sejuknya udara pegunungan.
Warung buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Meski pengunjung tak seramai dulu, ada satu hal yang tak pernah berubah, cita rasa gegok khas Mbah Tumirah yang konsisten dan selalu ludes setiap hari.
“Meski sekarang sudah banyak penjual nasi gegok lain, gegok saya tetap selalu habis. Jadi setiap hari saya pasti masak yang baru,” ujar Mbah Tumirah sambil tersenyum.
Warung gegok Mbah Tumirah kini bukan sekadar tempat makan, tapi juga saksi sejarah kuliner Trenggalek yang terus bertahan di tengah arus modernisasi.(Ika Firgiyanti/Trengalek-TA)







