IndonesiaBuzz: Selebritis – Artis dan aktivis lingkungan Cinta Laura angkat suara mengenai polemik tambang nikel di kawasan Raja Ampat, Papua. Lewat sebuah video yang viral di media sosial, Cinta melontarkan kritik tajam terhadap aktivitas pertambangan yang merusak lingkungan dan kehidupan masyarakat adat di wilayah yang dikenal sebagai salah satu “surga terakhir di dunia” tersebut.
Cinta mempertanyakan nilai kemanusiaan yang dikorbankan demi kepentingan industri. “Apa nilai satu nyawa manusia? Apakah sebanding dengan satu tambang, satu kapal pesiar, atau satu perjanjian strategis?” ujarnya, Selasa (10/6).
Dalam pernyataannya, Cinta juga menyinggung pihak-pihak yang terlibat dalam pemberian izin tambang. Ia mempertanyakan apakah mereka masih mengingat wajah-wajah warga yang terdampak, saat dividen dicairkan dan proyek dijalankan.
“Raja Ampat adalah salah satu kawasan laut paling rapuh di dunia. Tapi perusahaan-perusahaan tambang merobek hutan, mencemari air, dan mencekik terumbu karang—semua demi nikel untuk mobil listrik,” tegasnya.
Lebih dari sekadar kritik lingkungan, Cinta juga mengangkat isu moral. Ia menyebut adanya moral disengagement, atau pembenaran terhadap tindakan tak etis atas nama pembangunan nasional. “Kita membenarkan yang nggak bisa dibenarkan:
‘ini demi pembangunan’, ‘cuma pulau kecil’, atau ‘negara lain juga lebih parah’. Ini bukan soal kegagalan kebijakan, ini kegagalan hati nurani,” katanya.
Cinta turut menyoroti nasib masyarakat adat Papua, yang menurutnya selama ini justru menjadi penjaga alam Raja Ampat. Namun kini, suara mereka dibungkam dan hak mereka diabaikan. Ia menyinggung pelanggaran terhadap prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC), hak masyarakat adat yang dijamin oleh hukum internasional.
“Ada yang dipaksa, ada yang tak diajak bicara. Hutan sakral diratakan, laut jadi sunyi. Ilmu tentang laut yang diwariskan dari leluhur kini jadi tak relevan lagi,” tuturnya.







